POST

Kamis, 30 Mei 2013

FILSAFAT ILMU




I.                   FILSAFAT ILMU
 

Pengertian Filsafat

Apakah ilmu filsafat itu ? Bagaimanakah definisinya ? demikianlah pertanyaan-pertanyaan pertama yang kita hadapi ketika akan mempelajari ilmu filsafat. Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sebaiknya kita meninjau istilah filsafat  itu dari 3 (tiga) domain  yakni :dalam arti logat, arti praktis, dan dalam arti perbedaan dengan ilmu-ilmu yang lain.


l. Dari domain logat.
Dilihat dari sisi logat maka perkataan filsafat  itu adalah dari bentuk kata arab  Filsafah yang berasal dari kata yunani Philosophia . Philos berarti suka / cinta dan sophia berarti kebijaksanaan.Jadi philosophia berarti suka /cinta akan kebijaksanaan , yang maksudnya setiap orang yang berfilsafat cenderung akan menjadi orang yang bijaksana.

2. Dalam arti Praktis
Dilihat dari segi pengertian praktis maka filsafat berarti alam fikiran atau alam berfikir. Berfilsafat artinya berfikir , meskipun demikian tidak semua berfikir berarti berfilsafat . Berfilsafat adalah berfikir secara mendalam dan bersungguh-sungguh

3. Perbedaan dengan ilmu-ilmu lainnya.
Perbedaan ilmu filsafat dengan ilmu-lain dapat dilihat pada hal-hal sebagai berikut:
Ilmu-ilmu lain selain filsafat sering juga disebut ilmu vak. 
a)      membatasi pemeriksaannya pada satu bagian saja dalam alam maujud ini.
b)      Masing-masing ilmu itu tidak mencakup persoalan yang tidak dibahas oleh  ilmu lainnya.
c)      ilmu vak membahas tentang sebab akibat.
d)     Ilmu vak sering menghadapi kesulitan dalam menentukan batas-batas lingkungannya masing-masing.

Sedangkan Ilmu Filsafat:
a)      Menyelidiki seluruh kenyataan yang dibahas oleh ilmu-ilmu vak,
b)      Bagaimana hubungannya kenyataan itu antara satu dengan yang lain
c)      filsafat memandang kenyataan itu sebagai kesatuan yang utuh belum terpecah-pecah
d)     Filsafat membahas secara keseluruhan antara satu dengan yang lain
e)      Filsafat menyelidiki hakekat sesuatu dibalik sesuatu.







 BEBERAPA DEFINISI FILSAFAT MENURUT PARA TOKOH:

Kalau kita lihat , begitu luasnya lingkungan pembahasan ilmu filsafat, maka tidak heran jika  banyak  para ahli filosof  memberikan definisinya berbeda tekanannya satu sama lain , dibawah ini kita catat  beberapa definisi ilmu filsafat antara lain :

  1. Menurut Plato ( 427 s M  - 348 s.M ) Filsafat adalah  pengetahuan yang berminat untuk  mencapai kebenaran yang asli.
  2. Menurut Aristoteles ( 382 sM  - 322 s M )
            Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang       didalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika , logika , retorika , etika, ekonomi, politik dan aestetika.
  1. Menurut Al – Farabi ( 870 – 950 ),  Filsafat adalah  Ilmu pengetahuan tentang alam maujud  bagaimana hakekatnya yang sebenarnya.
  2. Menurut Descarts ( 1590  - 1650 ) Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan , dimana Tuhan, manuasia dan alam menjadi pokok penyelidikan .
  3. Menurut Immanuel Kant ( 1724 – 1804 ) Filsafat adalah ilmu pengetahuan  yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan , yang tercakup menjadi 4 persoalan  yaitu :
a). Apakah yang dapat kita ketahui          ( Jawabnya  : Metafisika )
b). Apakah yang seharusnya kita ketahui ( jawabnya  Etika )
c). Sampai dimanakah harapan kita          ( Jawabnya : agama )
d). Apakah yang dinamakan manusia       ( jawabnya antropologie )

Kesimpulan:
Sebenarnya setiap orang dapat merumuskan sendiri bagaimana kira-kira definisi filsafat itu asal saja dapat membayangkan luasnya lingkungan pembahasannya dari ilmu filsafat seperti yang telah dirumuskan oleh para filosof diatas. Definisi itu pada prinsipnya sama, tidak bertentangan dan hanya cara mengesankannya saja yang berbeda.

Adapun  berdasarkan pendapat para Filosof diatas dapat disimpulkan  sbb :
Ilmu Filsafat adalah  Ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai Ketuhanan, kemanusiaan, dan alam semesta sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakekatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.










II. CARA MEMPELAJARI FILSAFAT

Mengingat begitu luasnya lapangan ilmu filsafat itu maka menjadi sukar pula orang mempelajarinya. Darimana hendak dimulai dan bagaimana cara membahasnya , agar orang yang akan mempelajarinya segera dapat mengetahuinya. Pada jaman modern ini pada umumnya orang telah sepakat untuk mempelajari ilmu filsafat itu dari dua ( 2 )  macam cara / methode : yaitu pertama dengan cara mempelajari sejarah perkembangannya  sejak dahulu kala hingga sekarang ( metode historis ) yang Kedua dengan cara mempelajari isi yakni mempelajari lapangan pembahasannya yang diatur dalam bidang-bidang tertentu ( Methode sistematis ).

Dalam methode historis orang mempelajari perkembangan aliran-aliran filsafat dahulu kala hingga sekarang, disini dikemukakan riwayat hidup tokoh-tokoh filsafat yang terkenal serta bagaimana tiumbulnya aliran ( faham )filsafatnya dalam segalapersoalannya, Bagaimana tentang pendapatnya tentang Logika, tentang metafisika, tentang etika, dan tentang keagamaan.Seperti juga dalam pelajaran sejarah maka perkembangan filsafat atau alam fikiran manusia sejak zaman purba itu dibicarakan secara berurutan ( kronologis ) menurut waktunya masing-masing.

Dalam methode sistematik : orang membahas langsung isi persoalan dari ilmu filsafat itu dengan tidak mementingkan urutan zamannya masing-masing. Orang membagi persoalan ilmu filsafat itu dalam bidang tertentu. Misalnya dalam bidang logika, hanya bisa dipersoalkan mana yng benar dan mana yang salah, menurut pertimbangan akal, bagaimana cara berfikir yang benar dan bagaimana cara berfikir yang salah. Kemudian dalam bidang Rtika hanya dipersoalkan tentang  yang manakah yang buruk dalam perbuatan manusia. Disini tidak dibicarakan tentang persoalan-persoalan  logika atau metafisika

Dalam sitstematik ini  para filisuf  itu kita konfrontir satu sama lain pendapatnya dalam bidang / cabang tertentu, miusalnya dalam soal etika kita konfrontir saja pendapat filosuf dari zaman klasik Yunani ( Plato dan Ariestoteles ) dengan filosuf –filosof zaman aufklarung , Kant dan lain-lain,  dengan pendapat filosuf dewasa ini ( Jaspers dan Marcel ) dengan tidak usah mempersoalkan tertib periodisasi  masing-masing.










III. PEMBAGIAN SYSTEMATIKA FILSAFAT

Untuk mempelajari ilmu filsafat secara sistematis dan mudah diikuti persoalannya , maka lapangan-lapangan filsafat harus  dibagi menurut soal-soal yang dihadapinya saja. Dan dengan itu pula terjadilah pembagian sistematik dalam ilmu filsafat.

Sebelum masa Ariestoteles pembagian sistematika filsafat itu belumlah begiitu jelas , umumnya orang menganggap bahwa ilu filsafat mencakup semua ilmu pengetahuan yang dikenal manusia dizamannya. Dalam berfilsafat orang belum mengadakan pengkhususan , mengingat bahwa filsafat adalah merupakan induk dari semua pengetahuan dan merupakan suatu keseluruhan.

 Filosuf yang pertama kali dianggap sebagai perumus pembagian ilmu filsafat adalah Ariestoteles  ,  dialah yang pertama kali merumuskan ilmu logika sebagai ilmu tersendiri dan yang merupakan suatucabang dari ilmu filsafat., disisi lain sebenarnya Plato ( guru Ariestoteles )  jauh sebelumnya telah membedakan lapangan filsafat kedalam tiga (3) macam cabang ilmu yaitu :
a).Dialektika, yang mempersoalkan tentang idea-idea atau pengertian
    –pengertian secara umum.
    b). Fisika , yang mengandung persoalan dunia materi.
    c). Etika , yang mengandung persoalan tentang hal baik dan buruk.

Namun demikian Ariestoteleslah yang telah merumuskan pembagian filsafat secara lebih konkrit dan sistematik . Pembagiannya itu telah diakui baik oleh umum maupun  dalam waktu yang lama sekali . Sistematika filsafat di zaman modern inipun meskipun sudah banyak berubah dan berkembang namun masih dapat dilihat pengaruh pembagian Ariestoteles itu padanya.

              Adapun pembagian filsafat menurut  Ariestoteles  terdapat 4 (empat ) macam cabang ilmu  antara lain adalah :
l. Logika , yang menurut beliau bahwa logika merupakan suatu
                 pendahuluan bagi filsafat.
2. Filsafat Teoritis, dalam cabang ini dibagi menjadi 3 (tiga) yakni :-.
                         Ilmu Fisika
                                 Ilmu Matematika
                                 Ilmu Metafisika








                3.Filsafat Praktis,dalam cabang ilmu ini, terdapat 3 (tiga ) macam 
                                -Ilmu Etika
                                -Ilmu  Ekonomi
                                -Ilmu politik
                      4.Filsafat Poetika .adalah suatu ilmu yang mempersoalkan tentang
                                       kesenian dari berbagai seni lukis, seni pahat, seni tari , seni
                                       musik dll


 Disamping pembagian diatas , pada zaman modern ini yang disusun oleh staf redaksi  Encyklopaedi ENSIE ( Erste Nederland Systematich Ingerichte Encyclopaedie) yang mengadakan pembagian filsafat menjadi  (9) sembilan macam cabang ilmu  yaitu : Metafisika, logika, filsafat mengenal, filsafat pengetahuan , filsafat alam, filsafat kebudayaan, etika, Aestetika , dan Antropologie 

Dalam pada itu pada zaman modern ini juga mengadakan pembagian filsafat  sebagai berikut :  
                           a. Filsafat teoritis
                              -. Logika
                              -. Metafisika ( ontologi )
                              -. Filsafat alam ( kosmologi )
                              -. Filsafat manusia ( antropologi )

                          b. Filsafat Praktis
                              -. Etika
                              -. Filsafat agama
                              -. Filsafat kebudayaan
                         
                          c. Filsafat Kesenian ( poetika )
                              -. Seni pahat
                              -. Sastra
                              -. Seni lukis
                              -. Seni tari
                              -. Dll                                               












PEMBAGIAN FILSAFAT DAN BIDANGNYA









FILSAFAT ILMU
Dr. Widi Harsono

            FILOSOFI  SERING DIANGGAP SEBAGAI SESUATU YANG ...
1.      ELIT
2.      SULIT
3.      OBSCURE
4.      ABSTRAK

               1. ELIT , HANYA UNTUK GOLONGAN TERTENTU DAN BUKAN
                              UNTUK  KONSUMSI  UMUM.
               2.SULIT, BEBERAPA ASPEK HAMPIR TIDAK NYATA
                         ,    KOMPLEKS DAN BERBELIT-BELIT.
               3 .OBSCURE ARTINYA, SERING DIANGGAP HAL YANG TIDAK
                               ADA KAITANNYA DENGAN KEHIDUPAN SEHARI-
                               HARI  YANG DIFOKUSKAN KEPADA HAL-HAL YANG
                              TIDAK  JELAS DARI PENGALAMAN SEHARI-HARI.
              4.ABSTRAK , FILOSOFI MERUPAKAN SUATU ALAT YANG
                               BERHARGA DALAM MEMFASILITASI PROSES
                               PENGGABUNGAN TEORI DAN PRAKTEK

DIFINISI FILOSOFI
Suatu disiplin yang memperhatikan dan menggali dari dalil-dalil yang ada untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari ( Chinnn & Kramer, 1991 ).

Garis besar filosofi adalah pendekatan berfikir tentang kenyataan, termasuk tradisi agama, dan fenomena. ( Pearson & Vaugan 1986 )

Jadi FILOSOFI diartikan sebagai pencarian kebijaksanaan atau ilmu tentang sesuatu disekitar kita dan apa penyebabnya.
Filosofi merupakan kesepakatan apa yang kita yakini dan nilai apa yang kita anut dalam mempengaruhi kebiasaan kita.

TUJUAN FILOSOFI
Untuk memberikan persepsi tentang hal –hal yang penting dan berharga dalam menfasilitasi proses penggabungan teori dan praktek.









   Tinjauan keilmuan

Salah satu ciri profesi mandiri adalah adanya landasan pengetahuan ( body of knowledge )  yang jelas dan adanya institusi misalnya Kesehatan. PETUGAS KESEHATAN  sebagai profesi memerlukan pengetahuan teoritis yang jelas dan specifik serta dapat memenuhi karakteristik keilmuan yang berdimensi dan bersifat ilmiah.

Dari segi keilmuan, PETUGAS KESEHATAN  yang mandiri perlu dirumuskan dengan berpedoman kepada filsafat ilmu , sehingga dapat memenuhi ciri atau karakteristik  dan spesifikasi pengetahuan yang bersifat ilmiah.

Beberapa pokok karakteristik dan spesifikasi ilmu  meliputi hal-hal sebagai berikut :
1.      Obyek materi,                           
2.      Obyek Forma

FILOSOFI ASUHAN 
      Memperhatikan keamanan Klien ( safety )
      Memperhatikan kepuasan Klien  ( Satisfying )
      Menghormati martabat manusia dan self determination.
      Menghormati akan perbedaan kultur dan etnik ( Respecting cultur )
      Berpusat pada konteks keluarga ( family centered )
      Berorientasi pada promosi kesehatan ( health promotion )

KOMPONEN PENYANGGA DALAM TINJAUAN KEILMUAN
     Pendekatan ontologis
     Pendekatan epistemologis
     Pendekatan Aksiologis

PENDEKATAN ONTOLOGIS
          Secara ontologis , membatasi ilmu penelaahan keilmuannya hanya pada daerah-daerah jangkauan pengalaman manusia ,  Obyek penelaahan yang berada dalam batas prapengalaman  ( Penciptaan manusia ) dan pasca pengalaman ( surga dan neraka ) diserahkan ilmunya kepada pengetahuan lain.













PENDEKATAN EPISTEMOLOGIS
          Landasan epistemologi ilmu tercermin secara operasional dalam methode ilmiah. Pada dasarnya methode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuannya berdasarkan :
       .- Kerangka pemikiran yang bersifat logis
       .- Menjabarkan hipotesis
       .- Melakukan ferifikasi terhadap hipotesis.


PENDEKATAN AKSIOLOGIS   
             Aksiologis keilmuan menyangkut nilai-nalai  yang berkaitan dengan pengetahuan ilmiah baik secara internal, eksternal  maupun sosial. Nilai internal berkaitan dengan wujud dan kegiatan ilmiah dalam memperoleh pengetahuan tanpa mengesampingkan fitrah manusia. Nilai eksternal, berkaitan dengan penggunaan pengetahuan ilmiah. Sedang Nilai Sosial menyangkut pandangan masyarakat yang menilai keberadaan suatu pengetahuan dan profesi tertentu.































 FILSAFAT ILMU DAN METHODE PENELITIAN

ILMU ( SCIENCE ) ADALAH CABANG DARI PENGETAHUAN                            ( KNOWLEDGE )
·         ILMU =  PENGETAHUAN YANG BERSIFAT ILMIAH ( SCIENTIFIC KNOWLEDGE )

KATEGORI PENGETAHUAN :

  1. PENGETAHUAN TENTANG APA YANG BAIK DAN BURUK ( ETIKA )
  2. PENGETAHUAN TENTANG APA YANG INDAH DAN JELEK (ESTETIKA )
  3. PENGETAHUAN TENTANG APA YANG BENAR DAN SALAH ( LOGIKA )
LOGIKA : CARA BERFIKIR MENURUT ATURAN TERTENTU

DALAM KEGIATAN KEILMUAN, LOGIKA ( AKTIVITAS BERFIKIR YANG TERATUR ) DIIKUTI DENGAN PENUH KEDISIPLINAN

ILMU PENGETAHUAN MUNCUL AKIBAT KEKAGUMAN MANUSIA ATAS FENOMENA ALAM DAN SOSIAL YANG SELALU DIHADAPINYA


MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK YANG BERFIKIR ( COGITO ERGO SUM = DESCARTES ), MERASA DAN MENGINDERA DIBEKALI DENGAN RASA INGIN TAHU ( INQUIRING MIND ) :

 
 
YANG DIKEJAR ADALAH PENGETAHUAN YANG BENAR ATAU KEBENARAN BAIK SENSUAL ( RASIONAL ), LOGIKAL (  TEORETIKAL ), ETIKAL/MORAL MAUPUN TRANSENDENTAL/METAFISIKAL
 







PROSES BERFIKIR :

  1. BERFIKIR RASIONAL PROSES UNTUK MENDAPATKAN PEMAHAMAN DAN PENGETAHUAN DENGAN MENGGUNAKAN AKAL-BUDI
  2. BERFIKIR LOGIKAL PROSES UNTUK MENDAPATKAN PEMAHAMAN DAN PENGETAHUAN DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK BERFIKIR YANG TELAH DITETAPKAN DALAM ATURAN LOGIKA FORMAL
  3. BERFIKIR DIALEKTISPROSES MENETAPKAN TESIS DAN ANTI TESIS UNTUK MEMPEROLEH SINTESIS
  4. BERFIKIR INTUITIF PROSES UNTUK MENDAPATKAN PENGETAHUAN DENGAN SEGERA TANPA TERLALU MEMPERDULIKAN PROSEDUR DAN LANGKAH UNTUK SAMPAI PADA PENGETAHUAN TERSEBUT
  5. BERFIKIR TAKSONOMIS PROSES UNTUK MEMPEROLEH PENGETAHUAN DENGAN MENYUSUN KLASIFIKASI, TUJUANNYA ADALAH MENYEDERHANAKAN FENOMENA DAN GEJALA DALAM KATEGORI
  6. BERFIKIR SIMBOLIS PROSES UNTUK MEMPEROLEH PEMAHAMAN DAN PENGETAHUAN DENGAN MELIHAT FENOMENA SEBAGAI LAMBANG ( SIMBOL )

·                     ILMU ( PENGETAHUAN ILMIAH ) TIDAK BERTUJUAN UNTUK MENCARI KEBENARAN ABSOLUT, MELAINKAN KEBENARAN YANG BERMANFAAT BAGI MANUSIA DALAM TAHAP PERKEMBANGAN TERTENTU

·                     UNTUK MEMPEROLEH KEBENARAN  BISA DICAPAI DENGAN DUA CARA : NON-ILMIAH DAN ILMIAH :

NON-ILMIAH :
1.      AKAL-SEHAT ( COMMON SENSE ) – YAITU MENYUSUN DAN MEMBUAT GENERALISASI ATAS FENOMENA DENGAN MENGGUNAKAN AKAL-SEHAT;
2.      PRASANGKA ( PRESUMPTION ) – MEMPEROLEH PENGETAHUAN DENGAN MEMBUAT GENERALISASI YANG SANGAT LUAS SEHINGGA TIMBUL SANGKA/DUGAAN KEBENARAN ATAS SUATU FENOMENA
3.      INTUISI ( INTUITION )- PENGETAHUAN YANG DIPEROLEH SECARA CEPAT YANG TIDAK DIDASARI OLEH PERENUNGAN YANG MENDALAM ATAU TIDAK DIFIKIRKAN TERLEBIH DAHULU
4.      PENEMUAN KEBETULAN / COBA-COBA – PENGETAHUAN YANG DIPEROLEH TANPA RENCANA, TIDAK PASTI, DAN TIDAK MELALUI LANGKAH-LANGKAHYANG SISTEMATIK DAN TERKENDALI
5.      PENDAPAT OTORITAS ILMIAH DAN FIKIRAN KRITIS – PENDAPAT YANG BERASAL DARI ORANG YANG MEMPUNYAI OTORITAS KEILMUAN ( BERPENDIDIKAN ) YANG TINGGI SERINGKALI DITERIMA TANPA DIUJI KARENA TELAH DIANGGAP BENAR

ILMIAH :
UPAYA UNTUK MEMPEROLEH KEBENARAN LEWAT PENDEKATAN / PENELITIAN ILMIAH YAITU PENELITIAN YANG SISITEMATIK DAN TERKONTROL BERDASAR ATAS DATA EMPIRIS, OBYEKTIF DAN TIDAK BIAS

TUGAS ILMU ADALAH UNTUK : 1) MENCANDRA / MEMBUAT DESKRIPSI; 2) MENERANGKAN / EKSPLANASI; 3) MENYUSUN TEORI; 4) MEMBUAT PREDIKSI, ESTIMASI DAN PROYEKSI;                                  5) MELAKUKAN PENGENDALIAN

KRITERIA KEBENARAN



 


KOHERENSI                              KORESPONDENSI                              PRAGMATIS
LOGIKA DEDUKTIF                  LOGIKA INDUKTIF               LOGIKA PRAGMATIS
   

* PLATO
* ARISTOTELES

SUATU PERNYA-TAAN DIANGGAP   BENAR APABILA PERNYATAAN ITU               KOHEREN / KONSIS-TEN DENGAN PERNYATAAN SEBELUMNYA YANG DIANGGAP BENAR. MISALNYA : “SEMUA MANUSIA PASTI AKAN MATI. SI FULAN ADALAH MANUSIA DAN PASTI IA AKAN MATI ”  



*BERTRAND RUSSEL

SUATU PERNYA-TAAN ADALAH BENAR BILA PERNYATAAN ITU BERKORES-PONDENSI DENGAN OBYEK YANG DI- TUJU OLEH PER-NYATAAN TERSEBUT. MISAL-NYA :   IBUKOTA RI ADALAH JAKARTA”. ITU ADALAH SUATU PEMBUKTIAN SECARA EMPIRIK DALAM BENTUK PENGUMPULAN FAKTA-FAKTA YANG MENDUKUNG PERNYATAAN TERTENTU.
*  CHARLES PIERSE

SUATU PERNYA-TAAN ADALAH BENAR BILA PERNYATAAN ATAU KONSEKWENSI DARI PERNYATAAN ITU MEMPUNYAI KEGU-NAAN PRAKTIS DA-LAM KEHIDUPAN MANUSIA. MISAL-NYA : “DENGAN DI BERI GANJARAN / HADIAH SI MURID AKAN TERMOTIVASI BELAJAR DENGAN BAIK “


·         FILSAFAT ILMU SEBAGAI SALAH SATU CABANG ILMU FILSAFAT ADALAH MERUPAKAN KEGIATAN MEREFLEKSI SECARA MENDASAR DAN INTEGRAL MENGENAI HAKEKAT ILMU PENGETAUAN ( Kunto Wibisono : 1999 )

·         OBYEK FILSAFAT ILMU ADALAH MERUPAKAN TIANG-TIANG PENYANGGA EKSISTENSI LMU PENGETAHUAN YANG MELIPUTI ;            1) ONTOLOGI ; 2) EPISTEMOLOGI ; DAN  3) AKSIOLOGI


ONTOLOGI :  MENGKAJI APA HAKEKAT SESUATU ITU ? FAHAM-FAHAM SEPERTI IDEALISME, SPIRITUALISME, MATERIALISME DSB. ADALAH MERUPAKAN FILSAFAT ONTOLOGI.


EPISTEMOLOGI :  MENGKAJI TENTANG BAGAMANA CARA YANG DIPAKAI UNTUK MEMPEROLEH PENGETAHUAN, APA SARANANYA DAN APA UKURAN YANG DIPAKAI UNTUK MEMPEROLEH KEBENARAN ? FAHAM-FAHAM RASIONALISME, EMPIRISME, KRITISISME, POSITIVISME DAN FENOMENALOGISME TERMASUK KE DALAM FILSAFAT EPISTEMOLOGI.


AKSIOLOGI :  MENGKAJI TENTANG NILAI ( VALUE ) SEBAGAI IMPERATIF DALAM PENERAPAN DAN PEMANFAATAN ILMU SECARA PRAKSIS.



·         PERBEDAAN PANDANGAN ANTARA FAHAM POSITIVISM   DAN POST POSITIVISM TENTANG KETIGA TIANG ILMU YAITU :

-          ONTOLOGI,
-          EPISTEMOLOGI ,DAN
-          AKSIOLOGI










DAPAT DILIHAT SEBAGAI BERIKUT :

1.      Y.S. LINCOLN & E.G. GUBA , 1985, NATURALISTIC INQUIRY :


CONTRASTING POSITIVIST AND NATURALIST AXIOMS


AXIOMS ABOUT :
POSITIVIST PARADIGM
NATURALIST PARADIGM

THE NATURE OF REALITY

REALITY IS SINGLE, TANGIBLE AND FRAGMENTABLE
REALITIES ARE MULTIPLE, CONSTRUCTED, AND HOLISTIC
THE RELATIONSHIP OF THE KNOWER TO THE KNOWN
KNOWER AND KNOWN ARE INDEPENDENT, A DUALISM
KNOWER AND KNOWN ARE
INTERACTIVE, INSEPARABLE

THE POSSIBILITY OF GENERALIZATION
TIME AND CONTEXT-FREE,GENERALIZATION               ( NOMOTHETIC STATEMENTS ) ARE POSSIBLE
ONLY TIME AND CONTEXT-BOUND WORKING HYPOTHESES
( IDIOGRAPHIC STATEMENTS ) ARE POSSIBLE
THE POSSIBILITY OF CAUSAL LINKAGES
THERE ARE REAL CAUSES ,TEMPORALLY PRECEDENT TO OR SIMULTANEOUS WITH THEIR EFFECTS
ALL ENTITIES ARE IN A STATE OF MUTUAL SIMULTANEOUS SHAPING ,SO THAT IT IS IMPOSSIBLE TO DISTINGUISH CAUSES FROM EFFECTS

THE ROLE OF VALUES
INQUIRY IS VALUE-FREE
INQUIRY IS VALUE-BOUND










2.    J.W. CRESWELL, 1994, RESEARCH DESIGN :  QUALITATIVE  & QUANTI-TATIVE APPROACHES.

QUANTITATIVE AND QUALITATIVE PARADIGM ASSUMPTIONS


ASSUMPTION

QUESTION
QUANTITATIVE
QUALITATIVE

ONTOLOGICAL ASSUMPTION

WHAT IS THE NATURE OF REALITY ?

REALITY IS OBJECTIVE AND SINGULAR, APART FROM THE RESEARCHER
REALITY IS SUBJECTIVE AND MULTIPLE AS SEEN BY PARTICIPANT IN A STUDY

EPISTEMOLOGI-CAL ASSUMPTION
WHAT IS THE RELATIONSHIP OF THE RESEARCHER TO THAT RESEARCHED ?

REALITY IS INDEPENDENT FROM THAT BEING RESEARCHED
RESEARCHER INTERACTS WITH THAT BIENG RESEARCHED
AXIOLOGICAL ASSUMPTION
WHAT IS THE ROLE OF VALUES ?
VALUE-FREE AND UNBIASED
VALUE-LADEN AND BIASED
RHETORICAL ASSUMPTION
WHAT IS THE LANGUAGE OF RESEARCH ?
FORMAL; BASED ON SET DEFINITIONS; IMPERSONAL VOICE; USE OF ACCEPTED QUANTITATIVE WORDS
INFORMAL; EVOLVING DECISIONS; PERSONAL VOICE; ACCEPTED QUALITATIVE WORDS
METHODOLOGI-CAL ASSUMPTION
WHAT IS THE PROCESS OF THE RESEARCH ?
DEDUCTIVE PROCESS; CAUSE AND EFFECT; STATIC DESIGN-CATEGORIES ISOLATED BEFORE STUDY; CONTEXT-FREE; GENERALIZA-TIONS LEADING TO PREDICTION, EXPLANATION,AND UNDER-STANDING; ACCURATE AND RELIABLE THROUGH VALIDITY AND RELIABILITY

INDUCTIVE PROCESS; MUTUAL SIMULTANEOUS SHAPING OF FACTORS; EMERGING DESIGN-CATEGORIES IDENTIFIED DURING RESEARCH PROCESS; CONTEXT- BOUND; PATTERNS, THEORIES DEVELOPED FOR UNDER-STANDING; ACCURATE AND RELIABLE THROUGH VERIFICATION








SOURCE : BASED ON FIRESTONE (1987); GUBA & LINCOLN (1988); AND Mc CRAKEN (1988)


PERTANYAAN “ APAKAH ILMU ITU BEBAS NILAI ( VALUE FREE ) ATAUKAH SARAT DENGAN NILAI ( VALUE BOUND ) ?

KUNTO WIBISOSNO (1999) MENYATAKAN BAHWA ILMU PENGETAHUAN SEBAGAI SATU KESATUAN MENAMPAKKAN DIRI SECARA DIMENSIONAL : 1) SEBAGAI MASYARAKAT – ADANYA SEKELOMPOK ELIT YANG DALAM KEHIDUPANNYA MENDAMBAKAN KEWAJIBAN DAN TANGGUNGJAWAB; 2) SEBAGAI PROSES – ADALAH AKTIFITAS MASYARAKAT ILMIAH SEPERTI PENELITIAN,  SEMINAR, PERCOBAAN DSB. MENCARI DAN MENEMUKAN SESUATU HASIL YANG  PRAGMATIS ; DAN  3) SEBAGAI PRODUK – MENUNJUKAN HASIL-HASIL YANG BERUPA KARYA ILMIAH, TEORI-TOERI, PARADIGMA-PARADIGMA BESERTA HASIL TERAPANNYA YANG BERUPA TEKNOLOGI.



ILMU SEBAGAI PRODUK ADALAH BEBAS NILAI  ;  SEDANGKAN ILMU SEBAGAI MASYARAKAT DAN PROSES YANG SELALU BERADA DALAM KONTEKS SELALU TERIKAT OLEH NILAI.
ILMU SEBAGAI PRODUK PUN, SEBENARNYA APABILA DITERAPKAN SECARA PRAKTIS UNTUK MENCAPAI TUJUAN SECARA IMPLISIT SUDAH DIKENDALIKAN OLEH NILAI !



ALIRAN-ALIRAN UTAMA EPISTEMOLOGI ILMU

1.      POSITIVISME
    • AUGUSTE COMTE
    • UPAYA MENGGENERALISASI RERATA

1.1.GRAND THEORY ‘ HUKUM TIGA TAHAP PERKEMBANGAN ‘ , PERKEMBANGAN PEMIKIRAN MANUSIA TERBAGI MENJADI TIGA TAHAP : 1) TAHAP TEOLOGIS ATAU FIKTIF; 2) TAHAP METAFISIK ATAU ABSTRAK; 3) TAHAP POSITIF ATAU RIIL
1.2.MENOLAK TEOLOGI DAN METAFISIK KARENA KEDUANYA DINILAI PRIMITIF
1.3.LEBIH DIDASARKAN PADA PENELITIAN EMPIRIK DARIPADA SPEKULASI FILOSOFIK
1.4.ILMU YANG VALID ADALAH ILMU YANG DIBANGUN DARI EMPIRI MENUJU KEBENARAN ‘EMPIRI SENSUAL’
1.5.MENGEMBANGKAN METODOLOGI ’NOMOTETIK/AKSIOMATIK’
1.6.METODOLOGI PENELITIAN KUANTITATIF
1.7.PENDEKATAN POSITIVISTIK DENGAN : A)  MENGGUNAKAN POLA PIKIR KUANTITATIF YANG TERUKUR, TERAMATI, EMPIRI SENSUAL, LOGIKA MATEMATIK DAN BERTUJUAN MEMBUAT GENERALISASI ATAS RERA-TA ; B) MENGGABUNGKAN OLAHAN STATISTIK DENGAN OLAHAN VERBAL DENGAN POLA PIKIR KUANTITATIF
1.8.KEBENARAN DICARI LEWAT POLA PIKIR RELASI ( KORELASIONAL, SEBAB-AKIBAT, INTERAKTIF ), YANG :
·         SECARA ONTOLOGIK MELIHAT REALITAS DAPAT DIPILAH-PILAH DAN DAPAT DIPELAJARI SECARA INDEPENDEN DAN DIELIMINA-SIKAN DARI OBYEK YANG LAIN DAN DAPAT DIKONTROL
·         SECARA EPISTEMOLOGIK MENUNTUT DIKOTOMI ANTARA PENELITI DENGAN OBYEK PENELITIAN AGAR DIPEROLEH HASIL YANG OBYEKTIF. TUJUAN PENELITIANNYA ADALAH MEMBANGUN ILMU NOMOTETIK/AKSIOMATIK YAKNI ILMU YANG MEMBUAT HUKUM DARI GENERALISASI RERATANYA
·         SECARA AKSIOLOGIK PENDEKATAN POSITIVISME PROSESNYA HARUS BEBAS NILAI ( VALUE FREE ), DAN YANG DIKEJAR ADALAH ‘OBYEKTIVITAS’ AGAR DAPAT DISAJIKAN PREDIKSI/HUKUM YANG KEBERLAKUANNYA BEBAS WAKTU DAN TEMPAT ( SPATIO-TEMPORAL ) 


2. RASIONALISME
§    DESCARTES
§    UPAYA UNTUK MEMPEROLEH ESENSI / KEBENARAN APRIORI
§ BERSIFAT SOLIPSISTIK ( HANYA BENAR MENURUT KERANGKA FIKIR TERTENTU ) DAN SUBYEKTIF

2.1        SEMUA ILMU BERASAL DARI PEMAHAMAN INTELEKTUAL  MANUSIA YANG DIBANGUN ATAS KEMAMPUAN BERARGUMENTASI SECARA LOGIS, BUKAN DIBANGUN ATAS PENGALAMAN EMPIRI TETAPI MENEKANKAN PADA PEMAKNAAN EMPIRI YANG DIDUKUNG OLEH DATA EMPIRIK YANG RELEVAN
2.2        KEGIATAN BERARGUMENTASI DAN MEMBERI MAKNA SELALU DIDAHULUI DENGAN UJI EMPIRIK SECARA TERUS-MENERUS
2.3        ILMU YANG VALID MERUPAKAN ABSTRAKSI, SIMPLIFIKASI ATAU IDEALISASI DARI REALITAS DAN TERBUKTI RELEVAN ATAU KOHEREN DENGAN SISTEM LOGIKNYA
4.1        REALITAS TIDAK DAPAT/TIDAK MUDAH DIHAYATI SECARA SENSUAL SAJA SEHINGGA DIATAS EMPIRI SENSUAL ADA EMPERI LOGIKAL / TERORITIKAL DAN DIAKUI ADANYA PENGHAYATAN MANUSIA MENGENAI NILAI BAIK DAN BURUK ( PENGAKUAN ATAS EMPIRI SENSUAL, LOGIKAL DAN ETIKAL )
2.5        PENELITIAN DENGAN PENDEKATAN RASIONALISME : A) MENUNTUT  SIFAT OBYEK YANG HOLISTIK; B) OBYEK PENELITIAN TIDAK DILEPASKAN DARI KONTEKSNYA ATAU PALING JAUH OBYEK DITELITI DALAM FOKUS ATAU TEKANAN TERTENTU
2.6        MENGEJAR DIPEROLEHNYA GENERALISASI ATAU HUKUM-HUKUM            ( NOMOTETIK/AKSIOMATIK ) TETAPI BEDANYA DENGAN POSITIVISME YANG BERTOLAK DARI OBYEK YANG SPESIFIK, SEDANGKAN RASIONALISME BERTOLAK DARI KONSTRUKSI ‘TEORI BESAR’ ATAU ‘KONSEP BESAR’ DAN OBYEK YANG HOLISTIK
2.7        SELAIN MENGENAL POLA FIKIR RELASIONAL ( KORELASIONAL, SEBAB-AKIBAT, INTERAKTIF ) JUGA POLA FIKIR GENETIK , HISTORIK, ANTISIPATIK, REFLEKTIF, KONTEKSTUAL DAN EKLEKTIK
2.8        MENGAKUI KEKUATAN FIKIR MANUSIA UNTUK MEMBERIKAN MAKNA PADA LINGKUNGAN DAN PADA DIRI MANUSIA





2.9        SECARA ONTOLOGIK RASIONALISME MELIHAT REALITAS TIDAK PILAH DARI KONTEKS TOTALITASNYA DAN MENGAKUI TIGA MACAM EMPIRI : SENSUAL, LOGIKAL DAN ETIKAL
SECARA EPISTEMOLOGIK RASIONALISME BERUPAYA MENCARI KEBENARAN DENGAN MENGGUNAKAN KETIGA EMPIRI TERSEBUT UNTUK MENGKONTRUKSI TEORI TERTENTU. RASIONALISME LEBIH MENGARAH KE ADANYA MONOISME TEORITIK DARIPADA  PLURALISME TEORITIK
SECARA  AKSIOLOGIK RASIONALISME TIDAK HANYA INGIN MEMPEROLEH ILMU YANG NOMOTETIK / AKSIOMATIK TETAPI JUGA GENERALISASI HARUS MERUPAKAN HASIL UJI MAKNA  EMPIRIK DAN REFLEKTIF

3. EMPIRISISME
§ JOHN LOCKE
§ MENEKANKAN PENTINGNYA PENGALAMAN ( KEBENARAN APOSTERIORI )

3.1        PENGETAHUAN DIPEROLEH LEWAT PENGALAMAN INDERAWI MANUSIA
3.2        PENGETAHUAN DIPEROLEH DENGAN JALAN MENGGUNAKAN DAN  MEMBANDINGKAN GAGASAN-GAGASAN YANG DIPEROLEH DARI PENGINDERAAN DENGAN REFLEKSINYA
3.3        BERBEDA DENGAN POSITIVISME, AKAL MANUSIA HANYA MERUPAKAN TEMPAT PENAMPUNGAN YANG SECARA PASIF MENERIMA HASIL PENGINDERAAN MANUSIA
3.4        GEJALA-GEJALA ALAMIAH BERSIFAT KONKRET DAN DIUNGKAP LEWAT PENGINDERAAN DAN BILA DITELAAH LEBIH LANJUT AKAN MENGHASILKAN PENGETAHUAN DENGAN KARAKTERISTIK TERTENTU  ( LOGAM AKAN MENGEMBANG BILA DIPANASKAN )
3.5        MENGGUNAKAN CARA BERFIKIR INDUKTIF
3.6        FAKTA ADALAH NYATA KARENA DAPAT DITANGKAP DENGAN INDERA MANUSIA
3.7        SECARA ONTOLOGIK REALITAS ( KEBENARAN ) ITU ADALAH MERUPAKAN BENTUK DARI PENGALAMAN MANUSIA;
SECARA EPISTEMOLOGIK EMPIRISISME LEBIH MENEKANKAN PENTINGNYA EMPIRI SENSUAL DAN PENGETAHUAN DIBENTUK ATAS DASAR PENGALAMAN INDERAWI MANUSIA; DAN
SECARA AKSIOLOGIK  EMPIRISISME MENGAKUI ADANYA KEBENARAN EMPIRI SENSUAL DAN KURANG MEMBERI NILAI PADA PERAN EMPIRI LOGIKAL





4. FENOMENOLOGISME
§   EDMUND HUSSERL
§   UPAYA MEMAHAMI ‘MAKNA‘ PERISTIWA DAN INTERAKSI MANUSIA PADA SITUASI TERTENTU

4.1        ILMU TIDAK TERBATAS PADA HAL YANG EMPIRIK SENSUAL SAJA TETAPI JUGA MENCAKUP PELBAGAI FENOMENA SEPERTI : PERSEPSI, PEMIKIRAN, KEMAUAN DAN KEYAKINAN SUBYEK TENTANG SESUATU DILUAR DIRINYA, ADA YANG TRANSENDEN SELAIN JUGA YANG APOSTERIORIK
4.2        MENUNTUT PENDEKATAN HOLISTIK, MENDUDUKKAN OBYEK PENELITIAN DALAM SUATU KONSTRUKSI GANDA DAN MELIHAT OBYEKNYA DALAM SUATU KONTEKS NATURAL DAN PARSIAL
4.3        MELIHAT OBYEK DALAM KONTEKSNYA DAN MENGGUNAKAN TATA FIKIR LOGIK LEBIH DARI SEKEDAR BERFIKIR LINEAR-KAUSAL
4.4        BERTUJUAN MEMBANGUN ILMU IDIOGRAFIK ( KASUS INDIVIDUAL ) DAN BUKANNYA ILMU NOMOTETIK / AKSIOMATIK
4.5        HASIL PENELITIAN FENOMOLOGIS KEABSAHANNYA DIKAJI LEWAT UJI : KREDIBILITAS ; TRANSFERABILITAS ; DEPENDABILITAS ; DAN KONFIRMABILITAS , YANG MIRIP DENGAN VALIDITAS INTERNAL, VALIDITAS EKSTERNAL, RELIABILITAS DAN OBYEKTIFITAS PADA ANCANGAN POSITIVISME
4.6        SECARA ONTOLOGIK FENOMENOLOGISME MELIHAT REALITAS ITU KOMPLEKS, TERTATA, PUNYA BERBAGAI PERSPEKTIF DAN SALING BERHUBUNGAN SECARA INTERAKTIF SERTA SELALU TERKAIT DENGAN WAKTU DAN KONTEKS
SECARA EPISTEMOLOGIK FENOMENOLOGISME MENUNTUT MENYATUNYA ( BUKAN PILAH ) PENELITI DENGAN OBYEK PENELITIANNYA. INTERAKSI OBYEK-SUBYEK BUKANLAH MERUPAKAN HUBUNGAN YANG BERSIFAT KAUSALITAS-LINEAR, TETAPI HUBUNGAN TIMBAL-BALIK HETERARKHIK, INDETERMINATIF DAN MORPHOGENIK , MUTUAL SHAPING . TEORI DAN FAKTA DITENTUKAN OLEH NILAI , YAITU : 1) NILAI DARI PIHAK PENELITI ITU SENDIRI; 2) NILAI DALAM KONTEKS KULTURAL OBYEK PENELITIANNYA; 3) NILAI YANG TERJABARKAN DALAM SUBSTANSI PENELITIAN; 4) NILAI YANG TERJABARKAN PADA METODOLOGI PENELITIAN.








SECARA AKSIOLOGIK  FENOMENOLOGISME MENGAKUI ADANYA KEBENARAN EMPIRI ETIKAL ( VALUE BOUND / VALUE LADEN ) DAN MENGENAL PULA KEBENARAN TRANSENDENTAL, SENSUAL DAN LOGIKAL.

        PERANG TANDING ANTARA EPISTEMOLOGI  RASIONALISME ( YANG LEBIH MENGEDEPANKAN EMPIRI LOGIKAL ) MELAWAN EMPIRISISME ( YANG LEBIH MEMENTINGKAN EMPIRI SENSUAL ) DICOBA DITENGAHI OLEH IMMANUEL KANT DENGAN FAHAM  FENOMENALISME.
KEDUA FAHAM, RASIONALISME YANG CENDERUNG BERPOLA FIKIR APRIORIK DAN EMPIRISISME YANG BERPOLA FIKIR APOSTERIORIK DINILAI KANT KEDUANYA TIMPANG ATAU BERAT SEBELAH. IA MENEGASKAN BAHWA PENGETAHUAN MANUSIA MERUPAKAN PERPADUAN DAN SINTESIS ANTARA KOMPONEN APRIORI DAN APOSTERIORI.






























METODE ILMIAH
( J.S. Suriasumantri, 1985 )










KHASANAH
PENGETAHUAN
ILMIAH
 



PENYUSUNAN
KERANGKA
BERFIKIR
 


DEDUKSI


 
KOHERENSI

















PERUMUSAN
HIPOTESIS
 


 






      

     PRAGMATISME




 


INDUKSI
KORESPONDENSI




 





                                                                                                                   

THE FLOW OF NATURALISTIC INQUIRY
( Source : Y.S.Lincoln & E.G.Guba , 1985 )


NATURAL SETTING
 
 



CARRIED OUT WITHIN                                                                                        ALL TESTED FOR :
PROBLEM, EVALUAND ,OR                                                                                 . CREDIBILITY
POLICY OPTION DETER                                                                                          . TRANSFERABILITY
MINED BOUNDARIES                                                                                                . DEPENDABILITY
                                                                                                                                          CONFIRMABILITY
DEMANDS                


 


                  


HUMAN
INSTRUMENT
 
 
TACIT
KNOWLEDGE
METHODS
 
QUALITATIVE
METHODS
 
      BUILDING ON                                                                                          USING 




 


ENGAGING IN
 




INTERATED
UNTIL
REDUNDANCY
                                      


 




INVOLVING


 




LEADING TO


 




WHICH IS BOTH


 




MENDESAIN DAN MELAKSANAKAN PENELITIAN KUALITATIF


§    SETIAP CALON PENELITI YANG HENDAK MELAKSANAKAN SUATU KEGIATAN PENELITIAN , HENDAKNYA TERLEBIH DAHULU MENDALAMI 4 HAL PENTING YAKNI :

1.                  PARADIGMA / TEORI , YAKNI SERANGKAIAN KONSEP YANG BERSIFAT EKSPLANATIF
2.                  HIPOTESIS , SUATU PROPOSISI YANG BISA DIUJI / DITES KEBENARANNYA
3.                  METODOLOGI , SUATU PENDEKATAN UMUM UNTUK MENGKAJI SUATU TOPIK PENELITIAN
4.                  METODE , SUATU TEKNIK PENELITIAN YANG DIPILIH UNTUK MELAKSANAKAN PENELITIAN
  
CONTOH

1.            SUATU PENELITIAN YANG BERPARADIGMA POST POSITIVISM, MISALNYA ‘ INTERAKSI SIMBOLIK ‘ MENCOBA UNTUK MENGKAJI MAKNA-MAKNA SOSIAL YANG TERBENTUK KARENA ADANYA HUBUNGAN-HUBUNGAN ANTAR PRIBADI TENTANG SIKAP KAUM PEREMPUAN  MENGENAI KUOTA 30% DI LEMBAGA LEGISLATIF;
2.            HIPOTESA KERJA LOKAL YANG DISUSUN DAN DIUJI DI KANCAH MISALNYA : ‘ SEMAKIN KUATNYA TUNTUTAN KAUM PEREMPUAN DI KOTA X UNTUK MASUK DI LEMBAGA LEGISLATIF ’
3.             TOPIK PENELITIAN YANG DIKAJI LEWAT METODOLOGI KUALITATIF-NATURALISTIK ATAU ‘ VERSTEHEN ‘
4.            DENGAN MENGGUNAKAN METODE OBSERVASI, WAWANCARA, ANALISIS TEKS DAN DOKUMENTASI

METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF UNTUK KAJIAN KEBIJAKAN              ( BAIK PUBLIK MAUPUN BISNIS ) MENURUT JANE RITCHIE & LIZ SPENCER     ( 1994 ) TERBAGI KE DALAM 4 KATEGORI , YAKNI :

1.            CONTEXTUAL  : BERTUJUAN UNTUK MENGIDENTIFIKASI FORMAT / BENTUK DAN HAKEKAT KARAKTERISTIK SUATU KEBIJAKAN YANG SEDANG BERJALAN.
MISALNYA  : MENGKAJI TENTANG WUJUD PELAKSANAAN KEBIJAKAN PENGADAAN BERAS MURAH BAGI MASYARAKAT MISKIN DI SUATU DAERAH ( GERDU-TASKIN )

2.            DIAGNOSTIC       :  BERTUJUAN UNTUK MENELAAH ALASAN-ALASAN ATAU SEBAB-SEBAB MENGAPA SUATU KEBIJAKAN PERLU DI BUAT
MISALNYA  : SUATU KAJIAN TENTANG PERLUNYA PENANGGULANGAN KEMISKINAN LEWAT PROYEK JPS-PDMDKE.

3.            EVALUATIVE  : BERTUJUAN UNTUK MENILAI EFEKTIVITAS PELAKSANAAN SUATU KEBIJAKAN
MISALNYA  : SUATU KAJIAN TENTANG PERLU TIDAKNYA PEMERINTAH MEMPRIVATISASIKAN PENGADAAN AIR MINUM BAGI MASYARAKAT
 
4.            STRATEGIC             : BERTUJUAN MENGIDENTIFIKASI PERLUNYA SUATU KEBIJAKAN BARU UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN HIDUP MASYARAKAT
MISALNYA  : SUATU KAJIAN TENTANG PERLUNYA KEBIJAKAN ECO LABELLING BAGI PRODUK KEMASAN MAKANAN



§    DESAIN PENELITIAN KUALITATIF MENURUT PANDANGAN Y.S.LINCOLN & E.G.GUBA ( 1985 ), NATURALISTIC INQUIRY.

1.            PENELITIAN SELALU DIAWALI DENGAN PENETAPAN ‘ FOKUS PENELITIAN ‘ YANG BIASANYA BERUPA MASALAH, HAL-HAL YANG AKAN DIEVALUASI, PILIHAN / OPSI KEBIJAKAN YANG BISA BERUBAH-UBAH

2.            TEORI DIMUNCULKAN DARI HASIL PENELITIAN LAPANGAN ( TEORI BERDASAR DATA ) SEHINGGA MASALAH DAN METODE PENGUMPULAN DATA DAPAT BERUBAH SEHUBUNGAN DENGAN PENETAPAN TEORI DI LAPANGAN


3.            SAMPLE PENELITIAN BUKANLAH MERUPAKAN ‘ REPRESENTASI ‘ DARI POPULASI ( STATISTICAL SAMPLING ) YANG HARUS REPRESENTATIF TETAPI MERUPAKAN SUATU CARA UNTUK MEMAKSIMALKAN BESARAN INFORMASI YANG DIINGINKAN ( DALAM KONTEKS PENYUSUNAN TEORI ) SEHINGGA BERNUANSA SAMPLE TEORITIS ( THEORETICAL SAMPLING ) YANG PAS/COCOK DAN SERIAL     ( ‘CONTINGENT AND SERIAL’ )

4.            INTRUMEN PENELITIAN TIDAK BERSIFAT EKSTERNAL ( OBYEKTIF SEPERTI MISALNYA LEWAT PERTANYAAN DENGAN JAWABAN PILIHAN GANDA YANG DI TETAPKAN TERLEBIH DAHULU OLEH PENELITI ), TETAPI BERSIFAT INTERNAL  ( SUBYEKTIF ) YANG DIMAKSUDKAN AGAR PENELITI  MAMPU MEMBACA , MEMOTRET DAN MEMBERI MAKNA ATAS FENOMENA YANG AKAN DIKAJINYA


5.            ANALISIS DATA BERSIFAT ‘ OPEN ENDED ‘ DAN ‘ INDUKTIF ‘ MERUPAKAN CARA TERBAIK AGAR DATA YANG DIANALISIS MEMPUNYAI MAKNA, YAKNI DENGAN MEMPERPANJANG PROSES PENELITIAN DAN MEMAHAMI SECARA MAKSIMAL DAN MENDALAM   ( VERSTEHEN  ) FENOMENA YANG DIKAJI SESUAI DENGAN KONTEKKSNYA

6.            PENENTUAN JUMLAH BIAYA PENELITIAN AGAK SUKAR DITETAPKAN DENGAN TEPAT KARENA TUJUAN PENELITIAN , YAITU MENJAWAB PERTANYAAN PENELITIAN , AGAR TERCAPAI SULIT DIJADWAL

7.            HASIL PENELITIAN KUALITATIF AGAK SUKAR DITETAPKAN SECARA SPESIFIK SEPERTI MISALNYA DENGAN MENARIK GENERALISASI           ( SEPERTI PADA PENELITIAN KUANTITATIF ) KARENA SELAIN HASILNYA BERSIFAT TENTATIF IA JUGA BERSIFAT SUBSTANTIF & SUBYEKTIF  ( IDIOGRAFIS ) --- YAITU MENGGAMBARKAN SECARA MENDALAM ‘TACIT KNOWLEDGE ‘ DARI SUBYEK PENELITIANNYA SECARA ALAMI. GENERALISASI HASIL PENELITIANNYA HANYA DIMUNGKINKAN BILA HASIL UJI TERHADAP KEABSAHAN DATANYA YANG MELIPUTI CREDIBILITY, TRANSFERABILITY, DEPENDABILITY DAN CONFIRMABILITY  MENUNJUKAN TINGKAT KEPERCAYAAN HASIL YANG SANGAT TINGGI. INILAH YANG KEMUDIAN OLEH LINCOLN DAN GUBA DISEBUT  DENGAN ISTILAH TRUSTWORTHINESS.



§    UNSUR-UNSUR DESAIN DAN LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN KUALITATIF MENURUT GAGASAN LINCOLN DAN GUBA ( 1985 )


1.            MERANCANG DAN MENETAPKAN SUATU FOKUS PENELITIAN YANG BERANGKAT DARI ADANYA MASALAH TERTENTU ( PROBLEM ), OBYEK PENILAIAN ( EVALUAND ) DAN OPSI KEBIJAKAN ( POLICY OPTION )

2.            MERANCANG DAN MENETAPKAN KECOCOKAN ‘ PARADIGMA PENELITIAN ‘ DENGAN ‘ FOKUS PENELITIAN ‘.
WALAUPUN TIDAK ADA RUMUS BAKU UNTUK INI TETAPI SEBELUMNYA PERLU DIJAWAB BEBERAPA PERTANYAAN  ( AKSIOMA PARADIGMA PENELITIAN ) SBB :
2.1  APAKAH FENOMENA YANG AKAN DITELITI BERSIFAT GANDA ATAU TUNGGAL ?
2.2  BAGAIMANAKAH BENTUK HUBUNGAN ANTARA PENELITI DENGAN FENOMENA YANG HENDAK DITELITINYA ?
2.3  SEJAUHMANAKAH TINGKAT KETERGANTUNGAN KONTEKS               ( INSIDER PERSPECTIVE  =  PENELITIAN KUALITATIF ?  ATAUKAH  OUTSIDER PERSPECTIVE ? = PENELITIAN KUANTITATIF ? )
2.4  APAKAH ADA ALASAN YANG CUKUP UNTUK MENJELASKAN HUBUNGAN KAUSALITAS TERHADAP UNSUR-UNSUR FENOMENA YANG AKAN DIKAJI ?
2.5  SEJAUHMANAKAH NILAI-NILAI TERTENTU AKAN MEMPENGARUHI HASIL PENELITIANNYA ( BEBAS NILAI ATAUKAH SARAT NILAI )

3.            MERANCANG DAN MENETAPKAN KECOCOKAN PARADIGMA PENELITIAN  DENGAN TEORI SUBSTANTIF YANG AKAN DIPILIH UNTUK MENGARAHKAN PENELITIANNYA ( UNTUK MENGHASILKAN TEORI SUBSTANTIF DARI DATA )

4.            MERANCANG DAN MENETAPKAN ‘ SAMPEL ‘ PENELITIAN DIMANA DAN DARI SIAPA DATA AKAN DIKUMPULKAN  ( SAMPEL BERTUJUAN =  PURPOSIVE SAMPLE ) ---- DATA DIPEROLEH DARI ‘ SAMPEL ‘ YANG BERGULIR TERUS ( SNOWBALL SAMPLING ) ---- SEHINGGA DATANYA JENUH ( SATURATED DATA ) ATAU SESUAI DENGAN INFORMASI YANG DIINGINKANNYA TERCAPAI

5.            MERANCANG TAHAP / LANGKAH PENELITIAN  :

5.1.MENETAPKAN PROSES PENELITIAN PADA LATAR YANG ALAMI                             ( NATURAL SETTING ). PENELITIAN KUALITATIF HARUS DILAKUKAN   PADA LATAR YANG ALAMI KARENA FENOMENA FISIK, KIMIAWI, SOSIAL, PSIKOLOGI, BIOLOGI ITU AKAN MEMPUNYAI MAKNA YANG HAKIKI DALAM KONTEKS YANG ASLI (  IN SITU NOT IN VITRO ENVIRONMENTS ) ;
5.2.MENETAPKAN PENELITI SEBAGAI INSTRUMEN PENELITIAN YANG UTAMA ( HUMAN AS INSTRUMENT ). SECARA KONVENSIONAL TELAH LAMA DIAKUI BAHWA MANUSIA DAPAT MEMPEROLEH DATA YANG SANGAT DAPAT DIPERCAYA DENGAN CARA YANG SANGAT OBYEKTIF;
5.3.MEMUSATKAN DIRI PADA ‘ PENGETAHUAN YANG TAK TERKA-TAKAN ‘ ( TACIT KNOWLEDGE ). PENGETAHUAN TAK TERKATAKAN INI BISA SAJA BERASAL DARI OBYEK ATAU PERISTIWA TERTENTU , TETAPI YANG JELAS ‘ PTT ‘ INI DIPEROLEH  DARI PENGALAMAN KITA DENGAN OBYEK DAN PERISTIWA TSB ;
5.4.MENETAPKAN PENGGUNAAN METODE KUALITATIF KARENA METODE INI SANGAT PAS / SESUAI DENGAN POSISI PENELITI SEBAGAI INSTRUMEN PENELITIAN YANG UTAMA YANG MAMPU MELIHAT , MENDENGAR , BERBICARA , MEMBACA DSB SECARA CERMAT. OLEH KARENA ITU LEWAT UPAYA OBSERVASI DAN WAWANCARA MANUSIA MAMPU MENGGALI DATA DARI BERBAGAI SUMBER DATA TERMASUK ‘ NONVERBAL CUES ‘  DAN MENGINTERPRETASIKANNYA DENGAN CARA  ‘ INADVERTENT UNOBTRUSIVE MEASURES ‘.
5.5.MENETAPKAN SAMPEL BERTUJUAN  ( PURPOSIVE SAMPLING ). PENELITIAN KUALITATIF YANG SANGAT DEKAT DENGAN KONTEKS MAKA SAMPEL ‘ PURPOSIF ‘ ADALAH AYNG PALING TEPAT KARENA SAMPEL DIAMBIL UNTUK MEMPEROLEH DATA YANG KAYA ( TIDAK DITETAPKAN SECARA APRIORI , TETAPI TERUS BERGULIR SESUAI DENGAN DATA YANG DIBUTUHKAN  =  SATURATED DATA / INFORMATION REDUNDANCY ) ;
5.6.MENETAPKAN ANALISIS DATA SECARA INDUKTIF , YAKNI SUATU PROSES MEMBERI MAKNA ATAS DATA LAPANGAN ( A PROCESS FOR ‘ MAKING SENSE ‘ OF FIELD DATA ). INI MIRIP DENGAN ‘CONTENT ANALYSIS’ YAKNI SUATU PROSES YANG DIARAHKAN UNTUK MEMBEDAH INFORMASI YANG ‘ TERSEMBUNYI ‘                    ( EMBEDDED INFORMATION ) DAN MENJADIKANNYA EKSPLISIT ;
5.7.MENYUSUN TEORI MENDASAR ( GROUNDED THEORY  ) YAKNI TEORI YANG DISUSUN BERDASARKAN DATA YANG DIPEROLEH DI KANCAH UNTUK MENGGAMBARKAN REALITAS GANDA                     (  MULTIPLE REALITIES ) , KARENA ‘ KETERALIHAN HASIL PENELITIAN ‘ ( TRANSFERABILITY ) SANGAT TERGANTUNG PADA FAKTOR-FAKTOR YANG ADA DI LOKALNYA ;
5.8.DESAIN PENELITIAN DISUSUN SECARA SEMENTARA ( EMEGENT DESIGN ) KARENA : 1) MAKNA ATAS FENOMENA YANG DIKAJI ITU LEBIH BANYAK DI TENTUKAN OLEH KONTEKS ; 2) EKSISTENSI REALITAS YANG BERSIFAT GANDA TIDAK MUNGKIN DITELAAH LEWAT SATU ( YANG PASTI ) DESAIN PENELITIAN SAJA ; 3) APA YANG AKAN DIKAJI PADA SATU SITUS SENANTIASA TERGANTUNG PADA INTERAKSI ANTARA PENELITI DAN OBYEK YANG DITELITI DAN KONTEKSNYA DAN INTERAKSI ITU SANGAT SULIT DIRAMAL ; DAN 4) HAKEKAT PEMBERIAN MAKNA SECARA BERSAMA                 ( MUTUAL SHAPINGS ) HANYA DAPAT DILAKUKAN SETELAH FENOMENANYA DISAKSIKAN BERSAMA ( INTERSUBJECTIVE MEANING ) ;
5.9.HASIL PENELITIAN DINEGOSIASIKAN ( NEGOTIATED OUT COMES ) , ARTINYA BAIK FAKTA MAUPUN INTERPRESTASI HASIL DALAM BENTUK ‘ LAPORAN KHUSUS ‘ ITU HARUS DAPAT DITELITI KEBENARANNYA BAIK OLEH INFORMAN SEBAGAI SUMBER INFORMASI MAUPUN ORANG LAIN YANG MENYUKAINYA. HAL INI DIMAKSUDKAN UNTUK LEBIH MENGEDEPANKAN SEMANGAT ‘EMIC‘ DARI PADA ‘ETIC’ KARENA PENELITIAN KUALITATIF ITU SARAT DENGAN NILAI ( VALUE BOUNDED ) MAKA  THE VALUES OF THE RESPONDENTS MUST BE CONSIDERED   DAN INI SANGAT SESUAI DENGAN SEMANGAT UNTUK MEMPEROLEH ‘TRUSTWORTHINESS’;
5.10.LAPORAN HASIL PENELITIAN DIRUPAKAN DALAM BENTUK KAJIAN KHUSUS ( THE CASE REPORT ) YANG SANGAT SESUAI DENGAN PARADIGMA NATURALISTIK, YAKNI SUATU PENELAAHAN YANG SANGAT INTENSIF DAN MENDALAM ATAS SUATU FAKTA, ISU, ATAU MUNGKIN PERISTIWA YANG TERJADI PADA SUATU SETTING  SEPANJANG WAKTU. TUJUAN UTAMANYA ADALAH :  1) MEMBERIKAN GAMBARAN MENDALAM  ( THICK DESCRIPTION ) ATAS SUATU FENOMENA TERTENTU DALAM SITUASI TERTENTU ( A POTRAYAL OF A SITUATION ) ;   2) KAJIAN KASUS MEMENUHI 3 AKSIOMA MENDASAR DALAM PARADIGMA NATURALISTIK  ;   3) SEBAGAI SARANA KOMUNIKASI YANG IDEAL DENGAN PENGGUNA HASIL PENELITIAN ;

       5.11. SESUAI DENGAN BUTIR 5.9 DI ATAS MAKA HASIL PENELITIAN KUALITATIF AGAK SUKAR DITETAPKAN SECARA SPESIFIK SEPERTI MISALNYA DENGAN MENARIK GENERALISASI           ( SE-PERTI PADA PENELITIAN KUANTITATIF ) KARENA SELAIN HASILNYA BERSIFAT TENTATIF IA JUGA BERSIFAT SUBSTANTIF & SUBYEKTIF  ( IDIOGRAFIS ) --- YAITU MENGGAMBARKAN SECARA MENDALAM ‘TACIT KNOWLEDGE ‘ DARI SUBYEK PENELITIANNYA SECARA ALAMI. GENERALISASI HASIL PENELITIANNYA HANYA DIMUNGKINKAN BILA HASIL UJI TERHADAP KEABSAHAN DATANYA YANG MELIPUTI CREDIBILITY, TRANSFERABILITY, DEPENDABILITY DAN CONFIRMABILITY  MENUNJUKAN TINGKAT KEPERCAYAAN HASIL YANG SANGAT TINGGI. INILAH YANG KEMUDIAN OLEH LINCOLN DAN GUBA DISEBUT  DENGAN ISTILAH TRUSTWORTHINESS.
                  APLIKASI HASIL PENELITIAN KUALITATIF BERSIFAT SEMENTARA ATAU TENTATTIF ( TIDAK BERTUJUAN UNTUK MENCARI GENERALISASI ) . HASIL PENELITIAN KUALITATIF YANG BERSIFAT  IDIOGRAFIS ( TIDAK NOMOTETIS ) SANGAT TERIKAT OLEH NILAI-NILAI  KELOKALAN YANG SUBSTANTIF DAN SUBYEKTIF .  PENERAPANNYA YANG BERSIFAT AGAK‘GENERAL’ HANYA BISA DILAKUKAN PADA RUANG & WAKTU YANG SAMA ATAU PALING TIDAK ADA KEMIRIPAN






                  PANDANGAN W.L. NEWMAN DALAM  SOCIAL RESEARCH METHODS’ ,1994 , TENTANG   6 KARAKTERISTIK UTAMA PENELITIAN KUALITATIF :

1. MENGUTAMAKAN KONTEKS SOSIAL

    MAKNA SUATU TINDAKAN SOSIAL SANGAT TERGANTUNG SE-KALI PADA KONTEKS DI MANA TINDAKAN SOSIAL ITU TERJADI. BILA SUATU PERISTIWA ATAU TINDAKAN SOSIAL ITU DIPISAH-KAN DARI KONTEKS SOSIALNYA ATAU DIABAIKANNYA MAKA MAKNA DAN ARTI SOSIALNYA MENJADI RUSAK, HILANG ATAU BERBEDA ;                

2. PENDEKATAN STUDI KASUS

   PENELITI MENGUMPULKAN SEJUMLAH BESAR INFORMASI HANYA PADA SUATU ATAU BEBERAPA ( SEJUMLAH KECIL ) KASUS TETAPI IA MASUK KE DALAM DAN MENDETAIL AGAR DAPAT DIKETEMUKAN DAN DIGAMBARKAN POLA-POLA DALAM KEHIDUPAN, TINDAKAN, SIKAP, PERASAAN, KATA-KATA, DAN KALIMAT DARI ORANG-ORANG DI DALAM KONTEKS SOSIALNYA SECARA UTUH DAN MENYELURUH ;

3. MENGUTAMAKAN INTEGRITAS PENELITI                 

                     HUBUNGAN YANG DEKAT ANTARA PENELITI DENGAN SUBYEK PENELITIANNYA MENGHARUSKAN PENELITI KUALITATIF MEN-JAGA INTEGRITAS DIRINYA AGAR HASIL PENELITIANNYA TE-TAP OBYEKTIF DAN TIDAK BIAS ;

                  4. MEMBANGUN TEORI DARI DATA

    PENELITIAN KUALITATIF TIDAK BERANGKAT DARI TEORI ATAU HIPOTESIS, TETAPI DARI MASALAH PENELITIAN ( RE-SEARCH QUESTIONS  )  . KARENA PENELITIAN INI TIDAK BERSIFAT DEDUKTIF MELAINKAN INDUKTIF  MAKA TEORI DIBANGUN DARI DATA ATAU MENGGALI DATA DARI DASARNYA ( GROUNDED RESEARCH  );

5. MENCERMATI PROSES DAN SEKUEN

PENELITI KUALITATIF DENGAN CERMAT SELALU MENGAMATI PROSES DAN URUTAN PERISTIWA DARI KASUS YANG DIPELAJA-RINYA SETIAP SAAT AGAR DAPAT MELIHAT PERKEMBANGAN YANG TERJADI PADA KASUS TERSEBUT TERUS-MENERUS. HAL INI MEMBUTUHKAN WAKTU YANG RELATIF CUKUP LAMA; DAN
6. INTERPRETASI DATANYA KAYA DAN MENDALAM

    INTERPRETASI DATA DALAM PENELITIAN KUALITATIF DILAKUKAN MULAI DARI :
a)                 THE FIRST ORDER  INTERPRETATION :  YAITU MENGINTERPRETASIKAN DATA DENGAN CARA MENEMUKAN BAGAIMANAKAH ORANG-ORANG YANG SEDANG DITELITINYA ITU MELIHAT DAN MEMBERI MAKNA ATAS DUNIA ( WORLD VIEW  ) MEREKA SENDIRI ;
b)                 THE SECOND ORDER INTERPRETATION :  YAITU PENELITI KEMUDIAN MEREKONSTRUKSI MAKNA     ( MEANING )   TADI DALAM KAITANNYA DENGAN MAKNA-MAKNA YANG LAIN SESUAI DENGAN PERKEMBANGAN KONTEKSNYA, JADI IA MENEM-PATKAN TINDAKAN ORANG-ORANG YANG DITELITINYA KE DALAM  STREAM OF BEHAVIOR ;
c)                 THE THIRD ORDER INTERPRETATION :  YAITU PENELITI BERGERAK LEBIH JAUH DENGAN MENGHUBUNGKAN  THE SECOND INTERPRETATION  DENGAN TEORI UMUM ( GENERAL THEORY ).

KEENAM KARAKTERISTIK PENELITIAN KUALITATIF TERSEBUT DI ATAS JELAS SEKALI BERBEDA DENGAN PENELITIAN KUANTITATIF. PERBEDAAN KARAKTERISTIK KEDUA JENIS PENELITIAN INI  BAIK PADA ASPEK ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGINYA DAPAT DIKAJI LEWAT PANDANGAN BERBAGAI PAKAR PENELITIAN UTAMA-NYA SEBAGAIMANA  DIGAGAS OLEH LINCOLN DAN GUBA ( 1985 ) YANG TELAH DIKEMUKAKAN PADA PAPARAN SEBELUMNYA.
















#  MELAKSANAKAN PENELITIAN KUALITATIF DENGAN MENGGUNA-KAN  PARADIGMA NATURALISTIK  SEBAGAIMANA DIGAGAS OLEH LINCOLN DAN GUBA   (1985 ) : SEBUAH GARIS BESAR #

LANGKAH  I :


            TETAPKAN MASALAH PENELITIAN ( PROBLEMA NYATA, EVALUASI TENTANG SESUATU, ALTERNATIF KEBIJAKAN DST. );
            SUSUN  TUJUAN PENELITIAN SESUAI DENGAN MASALAH YANG HENDAK DIANGKAT.



LANGKAH II :

2.1    PILIH DAN TETAPKAN SETTING PENELITIAN YANG ALAMIAH;
2.2    PERSYARATAN PENETAPAN SETTING YANG ALAMI  HARUS BENAR-BENAR MENEKANKAN PADA  FENOMENA YANG DIKAJI , APAPUN BENTUKNYA  ( APAKAH FISIK / BIOLOGIS, SOSIAL, KEJIWAAN, SIKAP, PERILAKU, PERSEPSI DST. ) HARUS BERADA DALAM KONTEKSNYA YANG ALAMI ATAU ASLI;
2.3    KONSTRUKSIKAN REALITAS  YANG HENDAK DIKAJI  KETIKA IA BERADA DI SITUSNYA ATAU SEDANG TERJADI ( DIALAMINYA ) DENGAN MEMPERHATIKAN ASPEK KONTEKS DAN WAKTU;
2.4    LAKSANAKAN PENELITIAN  IN SITU   BUKAN  IN VITRO !!!

LANGKAH III :

            TETAPKAN INSTRUMEN PENELITIANNYA DAN JANGAN LUPA BAHWA  PENELITI  ITU SENDIRI ADALAH INSTRUMEN PENELITIAN YANG PALING PENTING;
            KARENA PENELITIAN HARUS DILAKUKAN PADA LATAR YANG ALAMI , SERINGKALI SEGALA SESUATU TERJADI SECARA TIDAK TERDUGA ATAU TIDAK TERBATAS ( INDETERMINATE ) MAKA YAKINKAN DIRI BAHWA PENELITI ADALAH INSTRUMEN YANG  UTAMA KARENA IA MAMPU MENGATASI SITUASI YANG TIDAK TERDUGA / TAK TERBATAS TERSEBUT;
            SETIAP PENELITI HARUS MEMPERSIAPKAN DIRI AGAR MEMILIKI KEMAMPUAN UNTUK :
                -  BERINTERAKSI DENGAN LINGKUNGANNYA;
                -  BERADAPTASI DENGAN SITUASI DAN KONDISI LINGKUNGAN PENELITIANNYA;
                -  MENANGKAP SEGALA SESUATU SECARA UNTUH DAN MENYELU-RUH;
               -   MEMPROSES DATA DENGAN CEPAT;
               -  MERINGKAS DATA , MEMBUAT KLASIFIKASI DAN KOREKSI DA-TA; DAN
               -  MENGEKSPLORASI RESPON-RESPON YANG TIDAK LAZIM ( UNIK ) GUNA MEMPEROLEH PEMAHAMAN YANG LEBIH MENDALAM.

LANGKAH IV :

       4.1  KUASI PENERAPAN METODE PENELITIAN KUALITATIF – NATURAL-ISTIK;
       4.2  PERGUNAKAN KEMAMPUAN METODE KUALITATIF TERSEBUT UNTUK MENGUNGKAP PENGETAHUAN YANG TIDAK TERKATAKAN    (  TACIT  KNOWLEDGE );
4.3   HASIL DARI  ‘ TO EXPLICATE HIDDEN AGENDA ‘ TADI KEMUDIAN   INTERPRETASIKAN, BERI MAKNA, DAN KOMUNIKASIN DENGAN ORANG LAIN SUPAYA BERUBAH MENJADI     EXPLICIT KNOWLEDGE’.

LANGKAH V :

5.1  TETAPKAN SAMPEL PENELITIANNYA DENGAN MEMPERGUNAKAN TEKNIK SAMPEL BERTUJUAN (  PURPOSIVE SAMPLING ) ;
5.2  KUMPULKAN DATA / INFORMASI SEBANYAK-BANYAKNYA DARI  SUMBERDATA YANG HANDAL (  SNOWBALL SAMPLE )  SESUAI DENGAN  KONTEKSNYA DAN YANG PALING COCOK UNTUK MENYUSUN TEORI;
5.3  TEMUKAN DATA YANG SARAT DENGAN NILAI TEORI ( THEORY LADEN DATA ).

       LANGKAH VI :

6.1    ANALISIS DATA SECARA INDUKTIF;
6.2    SUSUN HIPOTESA KERJA LOKAL ( LOCAL WORKING HYPOTHESES ) UNTUK DIUJI SIGNIFIKANSINYA;
6.3    KALAU HIPOTESA KERJA LOKALNYA BELUM TERBUKTI, LANJUT-KAN MENGUMPULKAN DATA SAMPAI DATANYA TERSATURASI        ( CONSTANT COMPARISON );
6.4    LANJUTKAN PROSES ANALISIS DENGAN MEMBEDAH DAN MENG-UNGKAP DATA / INFORMASI SEHINGGA MENJADIKANNYA EKSPLI-IT  LEWAT  KEGIATAN :
-  UNITIZING  :  PROSES MENTRANSFORMASIKAN DAN MENGAGRE-ASIKAN  DATA MENTAH  KE DALAM UNIT-UNIT SEHINGGA DA-PAT MEMBERIKAN DESKRIPSI YANG TEPAT TENTANG KARAKTERISTIK  FENOMENA YANG DIKAJI ;
              - CATEGORIZING  :  PROSES MENGORGANISASIKAN DATA KE DALAM  KATEGORI-KATEGORI  YANG MEMBENTUK INFORMASI DESKRIPTIF DAN INFERENSIAL TENTANG KONTEKS ATAU LATAR DARI MANA DATA TERSEBUT BERASAL.

       LANGKAH VII :

7.1    SUSUN TEORI YANG BERSUMBER DARI DATA;
7.2    TETAPKAN KONSEP “ FIT  DAN  WORK  SEBAGAI KRITERIA UNTUK MENILAI APAKAH SUATU TEORI DAPAT DIKATEGORIKAN KE DALAM TEORI MENDASAR ATAU TIDAK ( GROUNDED THEORY );
7.3    KONSEP “FIT” BERARTI  BAHWA KATEGORI-KATEGORI YANG DIHASILKAN DARI PROSES ANALISIS DATA INDUKTIF HARUS SELALU SIAP PAKAI DAN BERINDIKASI PADA DATA YANG SEDANG DIKAJINYA ,  DAN  KONSEP “WORK”  BERARTI BAHWA KATEGORI-KATEGORI ITU HARUS MEMPUNYAI MAKNA RELEVANSI YANG TINGGI DAN DAPAT MENJELASKAN FENOMENA YANG SEDANG DIKAJI.

LANGKAH IX :

9.1  SUSUN DESAIN PENELITIAN SESUAI DENGAN KONDISI LAPANGAN ATAU KONTEKS BERDASARKAN HASIL ANALISIS DATA YANG DI-LAKUKAN SECARA TERUS-MENERUS;
9.2  DESAIN PENELITIAN BISA MUNCUL TIBA-TIBA ( EMERGENT )  KARENA : a) ‘MAKNA’ DITENTUKAN OLEH KONTEKS ; b). KEBERADAAN REALITAS YANG BERSIFAT GANDA AKAN MEMBA-TASI PENGEMBANGAN SUATU DESAIN YANG SEMATA-MATA DIDASARKAN PADA KONSTRUKSI PENELITI; c) APA YANG DIKAJI DI SUATU SITUS SENANTIASA TERGANTUNG PADA ADANYA INTERAKSI ANTARA PENELITI DAN KONTEKS DAN INTERAKSI TERSEBUT TIDAK SELALU DAPAT DIRAMAL SECARA PENUH; d) HA-KEKAT PRODUK DARI INTERAKSI ITU TIDAK DAPAT DIKENALI HINGGA BENAR-BENAR TERWUJUD DAN DAPAT DISAKSIKAN LANGSUNG;
9.3  JANGAN BERANGKAT KE LAPANGAN DENGAN SEPENUHNYA TANGAN KOSONG     ( EMPTY HANDED ) DAN TIDAK PULA HAMPA TEORI / KONSEP ( EMPTY HEADED ) , TETAPI PENELITI KUALITATIF HARUS TETAP TERBUKA MATA-HATINYA ( OPEN HEARTED ) MENCARI, MENEMUKAN DAN MENGEMBANGKAN ‘TACIT KNOW-LEDGE’  TERUS-MENERUS SEHINGGA SEMAKIN TERFOKUS, UNSUR-UNSUR PENTING/POKOK MULAI NAMPAK, PERSEPSI TERUS BERKEMBANG, DAN TEORI MENDASAR DARI DATA BISA DIPE-ROLEH;
9.4  DESAIN SEMENTARA TERUS DIPUTAR ( ITERATED & RECURSIVE ) --  TETAPKAN SAMPEL BERTUJUAN – ANALISIS DATANYA SECARA INDUKTIF  --     KEMBANGKAN TEORI MENDASAR DARI DATA.

       LANGKAH X : 

       10.1 PROSES ITERASI TERUS DILANJUTKAN  SAMPAI DATANYA TERSATURASI;
       10.2  TEMUKAN FAKTA, MAKNA, DAN INTERPRETASI DARI FENOMENA ATAU OBYEK YANG DITELITINYA;
       10.3  NEGOSIASIKAN FAKTA, MAKNA, DAN INTERPRETASI DATA TADI DENGAN INFORMAN ( SEBAGAI SUMBER INFORMASI ) UNTUK MENCERMATI APAKAH FAKTA, MAKNA DAN INTERPRETASI TADI BENAR ATAU BISA DITERIMA OLEH SUBYEK PENELITIAN;
 10.4 SELAIN ITU, ORANG LAIN PUN BISA MEMBERIKAN MASUKAN TERHADAP FAKTA-FAKTA TADI  AGAR REKONSTRUKSI MAKNA YANG TELAH DIBUAT PENELITI SESUAI DENGAN SEMANGAT         EMIC   SI SUMBER DATA BUKANNYA PADA SEMANGAT ‘ ETIC ‘ –NYA  SI PENELITI.

LANGKAH XI :

11.1          MENULIS HASIL PENELITIAN KE DALAM BENTUK LAPORAN KASUS ( CASE REPORT  )  YANG BERISI SAJIAN ATAU DESKRIPSI TEBAL     ( THICK DESCRIPTION  ) ATAU URAIAN MENDALAM / KENTAL TENTANG  ‘REALITAS SIMBOLIK’  DARI FENOMENA YANG DIKAJINYA  YANG MEMPUNYAI MAKNA ATAU INTERPRETASI IDIOGRAFIS YANG UTUH DAN HOLISTIK;
11.2          SAJIKAN TEMUAN-TEMUAN PENELITIAN YANG BERISI PERNYA-TAAN-PERNYATAAN IDIOGRAFIS  YANG APLIKASINYA UTAMA-NYA PADA KONTEKS DI MANA PENELITIAN DILAKUKAN;
11.3          ANGKAT TEMUAN-TEMUAN IDIOGRAFIS TERSEBUT KE KONTEKS YANG LEBIH LUAS ( MEMPUNYAI NILAI GENERALISASI = TRANS-FERABILITAS )  ATAU YANG MEMILIKI TINGKAT KREDIBILITAS YANG TINGGI ( TRUSTWORTHINESS  ) YANG TERUJI LEWAT UJI KEABSAHAN HASIL PENELITIAN : a). CREDIBILITY (  VALIDITAS INTERNAL ) ; b). TRANSFERABILITY ( VALIDITAS EKSTERNAL ); c) DEPENDABILITY (  RELIABILITAS ); DAN d). CONFIRMABILITY            (  OBYEKTIVITAS ).
11.4          CREDIBILITY  :  BISA DIPEROLEH LEWAT  KETEKUNAN PENGAMA-TAN, PERPANJANGAN PARTISIPASI, MELAKUKAN TRIANGGULASI, PENGECEKAN DATA PADA ANGGOTA PENELITI, MEMPERBANYAK REFERENSI, DAN MENGKAJI KASUS NEGATIF;
TRANSFERABILITY :  DIPEROLEH LEWAT URAIAN YANG CERMAT, RINCI, TEBAL ATAU MENDALAM DAN KESAMAAN ANTARA KONTEKS PENGIRIM DAN PENERIMA;
DEPENDABILITY  :   DIPEROLEH LEWAT AUDIT ATAU PEMERIKSAAN YANG CERMAT TERHADAP SELURUH KOMPONEN DAN PROSES PENELITIAN SERTA HASIL PENELITIANNYA;
CONFIRMABILITY :  DIPEROLEH LEWAT AUDIT ATAU PEMERIKSA-AN YANG CERMAT TERHADAP SELURUH KOMPONEN DAN PROSES PENELITIAN SERTA HASIL PENELITIANNYA.
  

      GENERALISASI

    1. Generalisasi Ilmiah ( Scientific Generalization )
-          dibangun berdasarkan  konsep ‘populasi ‘ dan ‘sampel ‘;
-          bersifat nomotetik : berdasarkan hukum , dalil, aksioma, postulat, prinsip tertentu;
-          bersifat : rasionalistik, logis, proposisional, logis – mencari kebenaran sensual dan logikal.

    1. Generalisasi Alamiah ( Naturalistic Generalization )
-          dibangun berdasarkan ‘pengetahuan tak terkatakan’ ( tacit konwledge) yaitu : kognisi, abstraksi, komprehensi pengalaman manusia dari hasil interaksinya dengan yang lainnya;
-          bersifat intuitif, empirik;
-          bersifat idiografik : berdasarkan pada kasus khusus ( individual ).

Tacit Knowledge  :  pengetahuan tersirat ( tak terkatakan ) yang diperoleh dari pengalaman manusia berinteraksi dengan obyek dan peristiwa ;
Explicit Knowledge :  pengetahuan obyektif yang diperoleh lewat penalaran, logika dan uji teori

·         Ilmu-Ilmu Nomotetik :
-          mendasarkan pada metode ilmu alam ( natural sciences )
-          mencari keteraturan, dalil, hukum, prinsip, postulat;
-          interpretasi nomotetik – didasarkan pada hukum, dalil, aksioma, dan prinsip yang ajeg dan teratur.

·         Ilmu-Ilmu Idiografik :
-          mendasarkan pada ilmu humaniora ( social sciences );
-          mencari spesifikasi suatu fenomena / gejala ;        
-          pemberian pemaknaan ( interpretasi ) berdasarkan pada pengalaman individu tertentu dalam konteks khusus.








       KONSEP KEBENARAN ( TRUTH ) MENURUT J.FORD ( 1975 ) :

1.      Empirical Truth  :
Kebenaran yang diperoleh lewat kemampuan inderawi manusia untuk menangkap fenomena empirik
2.      Logical Truth :
Sesuatu dinilai benar bila memiliki konsistensi logis dan matematis dengan sesuatu yang telah diketahui kebenarannya



3.      Ethical Truth : 
Sesuatu dinilai benar bila bersesuaian atau memiliki konformitas dengan nilai-nilai moral / etika
4.      Metaphysical Truth  :
Kebenaran yang diperoleh lewat keimanan dan keyakinan di luar kemampuan inderawi manusia.

·         Konsep kebenaran no.1 dan 2  identik dengan proses berfikir deduktif              ( outsider perspective ) untuk memperoleh  explicit knowledge  yang bersifat nomotetik  lewat penelitian kuantitatif;
·         Konsep kebenaran no.3 dan 4 identik dengan proses berfikir induktif               (    insider perspective )  untuk memperoleh  tacit knowledge  yang bersifat idiografik lewat penelitian kualitatif.


            NAMA-NAMA LAIN UNTUK MENYEBUT JENIS PENELITIAN KUALITATIF  :

1.      INTERPRETIVE RESEARCH
2.      VERSTEHEN
3.      HERMENEUTICS
4.      ETHNOMETHODOLOGY
5.      ETHNOGRAPHY
6.      COGNITIVE RESEARCH
7.      FIELD RESEARCH
8.      IDEALIST RESEARCH
9.      SUBJECTIVIST  
10.  PHENOMENOLOGICAL RESEARCH
11.  SYMBOLIC INTERACTIONISM
12.  NATURALISTIC
13.  CONSTRUCTIVISM
14.  GROUNDED RESEARCH



·         VERSTEHEN  :

ADALAH PROSES PENELITIAN YANG MENGGUNAKAN POLA FIKIR DIVERGENSI, KREATIF, INOVATIF UNTUK MEMPEROLEH PEMAKNAAN ( PEMAHAMAN ) YANG MENDASAR DAN MENDALAM  YANG LEBIH JAUH DARI SEKEDAR HASIL UJI SIGNI-FIKANSI.

·         NATURALISM :

ADALAH PENELITIAN MENDASAR UNTUK MEMPEROLEH PEMAKNAAN FENOMENA YANG DIKAJI SESUAI DENGAN SETTINGNYA YANG ALAMI.

GOING NATIVE ‘ :
-          NOT EMPTY HEADED
-          EMPTY HANDED
-          OPEN MINDED
-          OPEN HEARTED

MENURUT BLOOM  , ADA TIGA (3) TINGKAT PEMAHAMAN  , YAKNI :

1.      PEMAHAMAN TRANSLASI / TERJEMAHAN  ---  YAITU PEMAHAMAN YANG TERBATAS PADA MENGUBAH SIMBOL DARI PERHI-TUNGAN STATISTIK KE VERBAL , ATAU DARI BAHASA YANG SATU KE BAHASA YANG LAIN ;
2.      PEMAHAMAN INTERPRETASI  ---  YAITU PEMAHAMAN YANG MELIPUTI SESUATU  YANG TERSURAT DAN TERSIRAT ;
3.      PEMAHAMAN EKSTRAPOLASI  --- YAITU PEMAHAMAN  YANG MENGHUBUNGKAN ANTARA SESUATU YANG TERSURAT DAN TERSIRAT DENGAN SESUATU DI LUARNYA.



*    TEORI , KONSEP DAN HIPOTESIS (  SELLTIZ )

THEORY  IS A SET OF CONCEPTS AND THE INTERRELATIONSHIPS THAT ARE ASSUMED TO EXIST AMONG THOSE CONCEPTS;

CONCEPTS ARE TERMS THAT REFER TO THE CHARACTERISTICS OF EVENTS, SITUATIONS, GROUPS, AND INDIVIDUALS THAT WE ARE STUDYING IN THE SOCIAL SCIENCES;

HYPOTHESIS  ARE THE CONSEQUENCES OF OF OUR THEORETICAL ASSUMPTIONS  ; OR  THE STATEMENTS THAT WE USUALLY SUBMIT TO ACTUAL TESTING.

·         CONCEPTS, PROPOSITIONS, HYPOTHESIS, THEORY ( E.BABBIE )

              CONCEPTS : - THE BASIC BUILDING BLOCKS OF THEORY;
 -THEY ARE ABSTRACT ELEMENTS REPRESENTING CLASSES OF PHENOMENA WITHIN THE FIELD OF STUDY

PROPOSITIONS : ARE CONCLUSIONS DRAWN ABOUT THE RELATIONSHIPS AMONG CONCEPTS BASED ON THE LOGICAL INTERRELATIONSHIPS AMONG THE AXIOMS

HYPOTHESIS : -  AN EXPECTATION ABOUT THE WAY THINGS OUGHT TO BE IN THE WORLD IF THE THEORETICAL EXPECTATION ARE CORRECT;
-    A STATEMENT OF SOMETHING THAT OUGHT TO BE OBSERVED IN THE REAL WORLD IF THE THEORY IS CORRECT.

              THEORY  :  A SYSTEMATIC EXPLANATION FOR THE OBSERVED FACTS AND LAWS THAT RELATE TO A PARTICULAR ASPECT OF LIFE.


           
*  KONSEP, VARIABEL, PROPOSISI, HIPOTESIS, DAN TEORI          


KONSEP : GENERALISASI DARI SEKELOMPOK FENOMENA TERTENTU SEHINGGA DAPAT DIPAKAI UNTUK MENGGAMBARKAN FENOMENA YANG SAMA .  CONTOH : NEGARA, BISNIS, UNIVERSITAS, KEPEMIMPINAN, KONSUMEN, MAHASISWA DST.

VARIABEL  :    KONSEP YANG MEMPUNYAI VARIASI NILAI.
                           CONTOH :  KONSEP NEGARA , VARIABELNYA ADALAH LETAK, LUAS, PENDUDUK, BAHASA, TIPE REJIM DST.

PROPOSISI :  PERNYATAAN TENTANG SIFAT REALITA YANG DAPAT DIUJI KEBENARANNYA.  CONTOHNYA :  KEPEMIMPI-NAN OTOKRATIK ADALAH PROSES KEPEMIMPINAN YANG BERPUSAT PADA ELIT.

HIPOTESIS :  KESIMPULAN SEMENTARA ATAU PROPOSISI TENTATIF TENTANG HUBUNGAN ANTARA DUA VARIABEL ATAU LEBIH.    CONTOHNYA :  SEMAKIN POSITIF PERSEPSI BAWAHAN TERHADAP PEMIMPINANNYA  MAKA SEMAKIN KUAT PENGARUH PEMIMPIN KEPADA BAWAHANNYA.

TEORI       :    RANGKAIAN YANG LOGIS DARI SATU PROPOSISI ATAU LEBIH .  CONTOH :  TEORI MOTIVASI  ‘LIMA JENJANG KEBUTUHAN MANUSIA’.



MEMBANGUN TEORI BERDASAR DATA




 








II.                 K O N S E P
Misalnya :  Perilaku Kekuasaan Pemimpin





·         Perilaku Kekuasaan Kontinuum & Resiprokal , memperhatikan :

1)      Syntagmatic Dimension --  patterning in time and space
2)      Paradigmatic Dimension  --  continuity producing , virtual order of elements



·         PROSEDUR  ANALISIS DATA PENELITIAN KUALITATIF

-          ADALAH BAGIAN YANG PALING SULIT DILAKUKAN;
-          ANALISIS BERSIFAT LENTUR DAN TERBUKA;
-          DATA BANYAK BERUPA KATA-KATA, UNGKAPAN, KALIMAT, GAMBAR DSB;
-          ANALISIS DILAKUKAN TERUS-MENERUS SEJAK AWAL PENELITIAN LAPANGAN  S/D SELESAI PENELITIAN;
-          PROSES MENGERJAKAN DATA :  DIATUR  -- DIKE-LOMPOKKAN KE DALAM UNIT-UNIT  --  DISINTESAKAN – DIKETEMUKAN POLA  -- DAN DISAJIKAN KEPADA ORANG LAIN.


(1)   MODEL ANALISIS  MILES DAN HUBERMAN , 1992.

1.1    REDUKSI DATA

-          PROSES MEMILIH, MENFOKUSKAN , MENYEDERHANAKAN , DAN MENGABSTRASIKAN DATA DARI PELBAGAI SUMBER DATA : CATATAN LAPANGAN, DOKUMEN, ARSIP DST ;
-          PROSES MEMPERTEGAS, MEMPERPENDEK, MEMBUANG YANG TIDAK PERLU, MENENTUKAN FOKUS DAN MENGATUR DATA SEHINGGA KESIMPULAN BISA DIBUAT.

1.2    PENYAJIAN DATA

-          PROSES MERAKIT DATA DAN MENYAJIKANNYA DENGAN BAIK SUPAYA LEBIH MUDAH DIFAHAMI;
-          PENYAJIAN BISA BERUPA MATRIKS, GAMBAR/SKEMA, JARINGAN-KERJA, TABEL DST.







1.3    MENARIK KESIMPULAN / VERIFIKASI

-          PROSES PENARIKAN KESIMPULAN AWAL MASIH BELUM KUAT, TERBUKA DAN SKEPTIS;
-          KESIMPULAN AKHIR DILAKUKAN SETELAH PENGUM-PULAN DATA BERAKHIR;
-          VERIFIKASI DIPEROLEH LEWAT PROSES  NEGOSIASI / KONSENSUS ANTAR SUBYEK , BERDISKUSI DENGAN SEJAWAT, MEMERIKSA DATA ANTAR ANGGOTA DST.  










 




































(2)   MODEL MARSHALL & ROSMAN , 1987  

2.1    MENGORGANISASIKAN DATA

-          MEMBACA DATA BERULANG-ULANG SHG. PENELITI INTIM DAN FAMILIAR DENGAN DATA;
-          MEMPERHATIKAN DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH DAN TELITI TENTANG BAGAIMANA DATA AKAN DIREDUKSI;
-          DIPERLUKAN BAGAN DAN SKEMA TETAPI JANGAN TERLAMPAU MEKANISTIK KARENA AKAN MEHILANGKAN KELUWESAN DESAIN.




2.2    MENYUSUN KATEGORI, TEMA DAN POLA

-          MENCATAT REGULARITAS HAL-HAL YANG TERJADI PADA SETTING DAN ORANG-ORANG YANG DITELITI;
-          BEGITU MAKNA MUNCUL , PENELITI MENCARI KATEGORI-KATEGORI YANG SECARA INTERNAL KONSISTEN TETAPI BERBEDA  SATU SAMA LAIN.



2.3    MENGUJI HIPOTESIS YANG MUNCUL

-          BEGITU KATEGORI, TEMA DAN POLA NAMPAK DALAM DATA, PENELITI SEGERA MEMULAI PROSES MENILAI VALIDITAS HIPOTESA YANG BERKEMBANG DAN MENGUJINYA DENGAN DATA YANG ADA;
-          KEGIATAN TERSEBUT MENCAKUP : MENCERMATI DATA, MENANTANG HIPOTESIS DAN MENEMUKAN BUKTI NEGATIF ; DAN
-          MENYATU-PADUKANNYA KE DALAM SEBUAH KONSTRUK YANG LEBIH BESAR.

2.4    MENEMUKAN / MENCARI EKSPLANASI ALTERNATIF

-          BEGITU KATEGORI, TEMA DAN POLA MUNCUL DI DATA, PENELITI SELALU DITANTANG UNTUK MENCARI ALTERNATIF PENJELASAN YANG LAIN, SEHINGGA DAPAT DIPEROLEH PENJELASAN YANG PALING VALID BAGI SEMUA.



2.5    MENULIS LAPORAN
  
-          DISINI PENELITI TERLIBAT DALAM KEGIATAN MEMBUAT INTERPRETASI  YAITU MEMBENTUK DAN MEMBERI MAKNA PADA SEJUMLAH BESAR DATA  SECARA  TEPAT DAN CERMAT

·         PEMBERIAN MAKNA SECARA MENDALAM / DESKRIPSI TEBAL  (  THICK DESCRIPTION  )  (  C.GEERTZ )


MENULIS LAPORAN HASIL PENELITIAN ( BOGDAN & TAYLOR )

1.      PURELY DESCRIPTIVE LIFE HISTORY

2.      PARTICIPANTS’ PERSPECTIVE OF THEIR WORLDVIEWS

3.      RELATIONSHIPS OF THE REALITY OF SOCIAL PHENOMENA TO THEORY

4.      FULLY THEORETICAL

5.      TO BUILD THEORY FROM DATA










 FILSAFAT   ILMU 



Oleh,

 Dr. WIDI HARSONO










PROGRAM PASCASARJANA
STIB BANYUWANGI
KONSENTRASI MAGISTER PEND AGAMA ISLAM
 


Maret   2013









B I O D A T A

NAMA
:
Dr. WIDI HARSONO, Drs.,SE.,MSi.
TEMPAT/TGL. LAHIR
:
BANYUWANGI, 18 JULI 1958
NIP
:
19580718 199309 1 001
PANGKAT   /  GOL.           
:
PEMBINA TINGKAT I (  IV/b  )
JABATAN
:
FUNGSIONAL PERENCANA MADYA 
INSTANSI
:
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH   KABUPATEN BANYUWANGI   
ALAMAT KANTOR
:
JL. A. YANI 100, B.WANGI ( 0333-428992 )
STATUS  AKADEMIS                    
:
DOSEN  TETAP 
N I D N                                             
:
07.180758.01
JABATAN AKADEMIK  
:
LEKTOR KEPALA  ( IV/c )
PERGURUAN TINGGI                   
:
FISIPOL  UMS JEMBER. (  KOPERTIS WILAYAH VII  JAWA TIMUR )
ALAMAT / NO.  TLP.
:
DSN SUMBERGROTO RT. 04, RW. 02 
DESA  REJOAGUNG  KEC. SRONO  KAB. BANYUWANGI HP. 081 333 540 145,  Email  wied_dhamar@co.id.
AGAMA
:
ISLAM
STATUS
ORGANISASI PROFESI
:
KAWIN
AP2I ( ASOSIASI  PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA ) BAPPENAS
PENDIDIKAN
:
S - 1  ( JUR. ADMINISTRASI  FISIPOL UNIV. JEMBER )
S - 1  ( JUR. MANAJEMEN FE UMS JEMBER )                                                                                                                                                                   AKTA MENGAJAR IV FKIP UMS JEMBER
S - 2  MAGISTER  ADM  PUBLIK  (MAP)  UNEJ JEMBER
AKTA MENGAJAR V FIP UNIVERSITAS JEMBER                                                                                              
AA ( APPLIED APROACH ) KOPERTIS VII JAWA TIMUR
S - 3  ADMINISTRASI  PUBLIK  FIA  UNIBRAW  MALANG









I.                   FILSAFAT ILMU


Pengertian Filsafat

Apakah ilmu filsafat itu ? Bagaimanakah definisinya ? demikianlah pertanyaan-pertanyaan pertama yang kita hadapi ketika akan mempelajari ilmu filsafat. Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sebaiknya kita meninjau istilah filsafat  itu dari 3 (tiga) domain  yakni :dalam arti logat, arti praktis, dan dalam arti perbedaan dengan ilmu-ilmu yang lain.

l. Dari domain logat.
Dilihat dari sisi logat maka perkataan filsafat  itu adalah dari bentuk kata arab  Filsafah yang berasal dari kata yunani Philosophia . Philos berarti suka / cinta dan sophia berarti kebijaksanaan.Jadi philosophia berarti suka /cinta akan kebijaksanaan , yang maksudnya setiap orang yang berfilsafat cenderung akan menjadi orang yang bijaksana.

2. Dalam arti Praktis
Dilihat dari segi pengertian praktis maka filsafat berarti alam fikiran atau alam berfikir. Berfilsafat artinya berfikir , meskipun demikian tidak semua berfikir berarti berfilsafat . Berfilsafat adalah berfikir secara mendalam dan bersungguh-sungguh

3. Perbedaan dengan ilmu-ilmu lainnya.
Perbedaan ilmu filsafat dengan ilmu-lain dapat dilihat pada hal-hal sebagai berikut:
Ilmu-ilmu lain selain filsafat sering juga disebut ilmu vak. 
a)      membatasi pemeriksaannya pada satu bagian saja dalam alam maujud ini.
b)      Masing-masing ilmu itu tidak mencakup persoalan yang tidak dibahas oleh  ilmu lainnya.
c)      ilmu vak membahas tentang sebab akibat.
d)     Ilmu vak sering menghadapi kesulitan dalam menentukan batas-batas lingkungannya masing-masing.

Sedangkan Ilmu Filsafat:
a)      Menyelidiki seluruh kenyataan yang dibahas oleh ilmu-ilmu vak,
b)      Bagaimana hubungannya kenyataan itu antara satu dengan yang lain
c)      filsafat memandang kenyataan itu sebagai kesatuan yang utuh belum terpecah-pecah
d)     Filsafat membahas secara keseluruhan antara satu dengan yang lain
e)      Filsafat menyelidiki hakekat sesuatu dibalik sesuatu.







 BEBERAPA DEFINISI FILSAFAT MENURUT PARA TOKOH:

Kalau kita lihat , begitu luasnya lingkungan pembahasan ilmu filsafat, maka tidak heran jika  banyak  para ahli filosof  memberikan definisinya berbeda tekanannya satu sama lain , dibawah ini kita catat  beberapa definisi ilmu filsafat antara lain :

  1. Menurut Plato ( 427 s M  - 348 s.M ) Filsafat adalah  pengetahuan yang berminat untuk  mencapai kebenaran yang asli.
  2. Menurut Aristoteles ( 382 sM  - 322 s M )
            Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang       didalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika , logika , retorika , etika, ekonomi, politik dan aestetika.
  1. Menurut Al – Farabi ( 870 – 950 ),  Filsafat adalah  Ilmu pengetahuan tentang alam maujud  bagaimana hakekatnya yang sebenarnya.
  2. Menurut Descarts ( 1590  - 1650 ) Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan , dimana Tuhan, manuasia dan alam menjadi pokok penyelidikan .
  3. Menurut Immanuel Kant ( 1724 – 1804 ) Filsafat adalah ilmu pengetahuan  yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan , yang tercakup menjadi 4 persoalan  yaitu :
a). Apakah yang dapat kita ketahui          ( Jawabnya  : Metafisika )
b). Apakah yang seharusnya kita ketahui ( jawabnya  Etika )
c). Sampai dimanakah harapan kita          ( Jawabnya : agama )
d). Apakah yang dinamakan manusia       ( jawabnya antropologie )

Kesimpulan:
Sebenarnya setiap orang dapat merumuskan sendiri bagaimana kira-kira definisi filsafat itu asal saja dapat membayangkan luasnya lingkungan pembahasannya dari ilmu filsafat seperti yang telah dirumuskan oleh para filosof diatas. Definisi itu pada prinsipnya sama, tidak bertentangan dan hanya cara mengesankannya saja yang berbeda.

Adapun  berdasarkan pendapat para Filosof diatas dapat disimpulkan  sbb :
Ilmu Filsafat adalah  Ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai Ketuhanan, kemanusiaan, dan alam semesta sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakekatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.










II. CARA MEMPELAJARI FILSAFAT

Mengingat begitu luasnya lapangan ilmu filsafat itu maka menjadi sukar pula orang mempelajarinya. Darimana hendak dimulai dan bagaimana cara membahasnya , agar orang yang akan mempelajarinya segera dapat mengetahuinya. Pada jaman modern ini pada umumnya orang telah sepakat untuk mempelajari ilmu filsafat itu dari dua ( 2 )  macam cara / methode : yaitu pertama dengan cara mempelajari sejarah perkembangannya  sejak dahulu kala hingga sekarang ( metode historis ) yang Kedua dengan cara mempelajari isi yakni mempelajari lapangan pembahasannya yang diatur dalam bidang-bidang tertentu ( Methode sistematis ).

Dalam methode historis orang mempelajari perkembangan aliran-aliran filsafat dahulu kala hingga sekarang, disini dikemukakan riwayat hidup tokoh-tokoh filsafat yang terkenal serta bagaimana tiumbulnya aliran ( faham )filsafatnya dalam segalapersoalannya, Bagaimana tentang pendapatnya tentang Logika, tentang metafisika, tentang etika, dan tentang keagamaan.Seperti juga dalam pelajaran sejarah maka perkembangan filsafat atau alam fikiran manusia sejak zaman purba itu dibicarakan secara berurutan ( kronologis ) menurut waktunya masing-masing.

Dalam methode sistematik : orang membahas langsung isi persoalan dari ilmu filsafat itu dengan tidak mementingkan urutan zamannya masing-masing. Orang membagi persoalan ilmu filsafat itu dalam bidang tertentu. Misalnya dalam bidang logika, hanya bisa dipersoalkan mana yng benar dan mana yang salah, menurut pertimbangan akal, bagaimana cara berfikir yang benar dan bagaimana cara berfikir yang salah. Kemudian dalam bidang Rtika hanya dipersoalkan tentang  yang manakah yang buruk dalam perbuatan manusia. Disini tidak dibicarakan tentang persoalan-persoalan  logika atau metafisika

Dalam sitstematik ini  para filisuf  itu kita konfrontir satu sama lain pendapatnya dalam bidang / cabang tertentu, miusalnya dalam soal etika kita konfrontir saja pendapat filosuf dari zaman klasik Yunani ( Plato dan Ariestoteles ) dengan filosuf –filosof zaman aufklarung , Kant dan lain-lain,  dengan pendapat filosuf dewasa ini ( Jaspers dan Marcel ) dengan tidak usah mempersoalkan tertib periodisasi  masing-masing.










III. PEMBAGIAN SYSTEMATIKA FILSAFAT

Untuk mempelajari ilmu filsafat secara sistematis dan mudah diikuti persoalannya , maka lapangan-lapangan filsafat harus  dibagi menurut soal-soal yang dihadapinya saja. Dan dengan itu pula terjadilah pembagian sistematik dalam ilmu filsafat.

Sebelum masa Ariestoteles pembagian sistematika filsafat itu belumlah begiitu jelas , umumnya orang menganggap bahwa ilu filsafat mencakup semua ilmu pengetahuan yang dikenal manusia dizamannya. Dalam berfilsafat orang belum mengadakan pengkhususan , mengingat bahwa filsafat adalah merupakan induk dari semua pengetahuan dan merupakan suatu keseluruhan.

 Filosuf yang pertama kali dianggap sebagai perumus pembagian ilmu filsafat adalah Ariestoteles  ,  dialah yang pertama kali merumuskan ilmu logika sebagai ilmu tersendiri dan yang merupakan suatucabang dari ilmu filsafat., disisi lain sebenarnya Plato ( guru Ariestoteles )  jauh sebelumnya telah membedakan lapangan filsafat kedalam tiga (3) macam cabang ilmu yaitu :
a).Dialektika, yang mempersoalkan tentang idea-idea atau pengertian
    –pengertian secara umum.
    b). Fisika , yang mengandung persoalan dunia materi.
    c). Etika , yang mengandung persoalan tentang hal baik dan buruk.

Namun demikian Ariestoteleslah yang telah merumuskan pembagian filsafat secara lebih konkrit dan sistematik . Pembagiannya itu telah diakui baik oleh umum maupun  dalam waktu yang lama sekali . Sistematika filsafat di zaman modern inipun meskipun sudah banyak berubah dan berkembang namun masih dapat dilihat pengaruh pembagian Ariestoteles itu padanya.

              Adapun pembagian filsafat menurut  Ariestoteles  terdapat 4 (empat ) macam cabang ilmu  antara lain adalah :
l. Logika , yang menurut beliau bahwa logika merupakan suatu
                 pendahuluan bagi filsafat.
2. Filsafat Teoritis, dalam cabang ini dibagi menjadi 3 (tiga) yakni :-.
                         Ilmu Fisika
                                 Ilmu Matematika
                                 Ilmu Metafisika








                3.Filsafat Praktis,dalam cabang ilmu ini, terdapat 3 (tiga ) macam 
                                -Ilmu Etika
                                -Ilmu  Ekonomi
                                -Ilmu politik
                      4.Filsafat Poetika .adalah suatu ilmu yang mempersoalkan tentang
                                       kesenian dari berbagai seni lukis, seni pahat, seni tari , seni
                                       musik dll


 Disamping pembagian diatas , pada zaman modern ini yang disusun oleh staf redaksi  Encyklopaedi ENSIE ( Erste Nederland Systematich Ingerichte Encyclopaedie) yang mengadakan pembagian filsafat menjadi  (9) sembilan macam cabang ilmu  yaitu : Metafisika, logika, filsafat mengenal, filsafat pengetahuan , filsafat alam, filsafat kebudayaan, etika, Aestetika , dan Antropologie 

Dalam pada itu pada zaman modern ini juga mengadakan pembagian filsafat  sebagai berikut :  
                           a. Filsafat teoritis
                              -. Logika
                              -. Metafisika ( ontologi )
                              -. Filsafat alam ( kosmologi )
                              -. Filsafat manusia ( antropologi )

                          b. Filsafat Praktis
                              -. Etika
                              -. Filsafat agama
                              -. Filsafat kebudayaan
                         
                          c. Filsafat Kesenian ( poetika )
                              -. Seni pahat
                              -. Sastra
                              -. Seni lukis
                              -. Seni tari
                              -. Dll                                               












PEMBAGIAN FILSAFAT DAN BIDANGNYA









FILSAFAT ILMU
Dr. Widi Harsono

            FILOSOFI  SERING DIANGGAP SEBAGAI SESUATU YANG ...
1.      ELIT
2.      SULIT
3.      OBSCURE
4.      ABSTRAK

               1. ELIT , HANYA UNTUK GOLONGAN TERTENTU DAN BUKAN
                              UNTUK  KONSUMSI  UMUM.
               2.SULIT, BEBERAPA ASPEK HAMPIR TIDAK NYATA
                         ,    KOMPLEKS DAN BERBELIT-BELIT.
               3 .OBSCURE ARTINYA, SERING DIANGGAP HAL YANG TIDAK
                               ADA KAITANNYA DENGAN KEHIDUPAN SEHARI-
                               HARI  YANG DIFOKUSKAN KEPADA HAL-HAL YANG
                              TIDAK  JELAS DARI PENGALAMAN SEHARI-HARI.
              4.ABSTRAK , FILOSOFI MERUPAKAN SUATU ALAT YANG
                               BERHARGA DALAM MEMFASILITASI PROSES
                               PENGGABUNGAN TEORI DAN PRAKTEK

DIFINISI FILOSOFI
Suatu disiplin yang memperhatikan dan menggali dari dalil-dalil yang ada untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari ( Chinnn & Kramer, 1991 ).

Garis besar filosofi adalah pendekatan berfikir tentang kenyataan, termasuk tradisi agama, dan fenomena. ( Pearson & Vaugan 1986 )

Jadi FILOSOFI diartikan sebagai pencarian kebijaksanaan atau ilmu tentang sesuatu disekitar kita dan apa penyebabnya.
Filosofi merupakan kesepakatan apa yang kita yakini dan nilai apa yang kita anut dalam mempengaruhi kebiasaan kita.

TUJUAN FILOSOFI
Untuk memberikan persepsi tentang hal –hal yang penting dan berharga dalam menfasilitasi proses penggabungan teori dan praktek.









   Tinjauan keilmuan

Salah satu ciri profesi mandiri adalah adanya landasan pengetahuan ( body of knowledge )  yang jelas dan adanya institusi misalnya Kesehatan. PETUGAS KESEHATAN  sebagai profesi memerlukan pengetahuan teoritis yang jelas dan specifik serta dapat memenuhi karakteristik keilmuan yang berdimensi dan bersifat ilmiah.

Dari segi keilmuan, PETUGAS KESEHATAN  yang mandiri perlu dirumuskan dengan berpedoman kepada filsafat ilmu , sehingga dapat memenuhi ciri atau karakteristik  dan spesifikasi pengetahuan yang bersifat ilmiah.

Beberapa pokok karakteristik dan spesifikasi ilmu  meliputi hal-hal sebagai berikut :
1.      Obyek materi,                           
2.      Obyek Forma

FILOSOFI ASUHAN 
      Memperhatikan keamanan Klien ( safety )
      Memperhatikan kepuasan Klien  ( Satisfying )
      Menghormati martabat manusia dan self determination.
      Menghormati akan perbedaan kultur dan etnik ( Respecting cultur )
      Berpusat pada konteks keluarga ( family centered )
      Berorientasi pada promosi kesehatan ( health promotion )

KOMPONEN PENYANGGA DALAM TINJAUAN KEILMUAN
     Pendekatan ontologis
     Pendekatan epistemologis
     Pendekatan Aksiologis

PENDEKATAN ONTOLOGIS
          Secara ontologis , membatasi ilmu penelaahan keilmuannya hanya pada daerah-daerah jangkauan pengalaman manusia ,  Obyek penelaahan yang berada dalam batas prapengalaman  ( Penciptaan manusia ) dan pasca pengalaman ( surga dan neraka ) diserahkan ilmunya kepada pengetahuan lain.













PENDEKATAN EPISTEMOLOGIS
          Landasan epistemologi ilmu tercermin secara operasional dalam methode ilmiah. Pada dasarnya methode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuannya berdasarkan :
       .- Kerangka pemikiran yang bersifat logis
       .- Menjabarkan hipotesis
       .- Melakukan ferifikasi terhadap hipotesis.


PENDEKATAN AKSIOLOGIS   
             Aksiologis keilmuan menyangkut nilai-nalai  yang berkaitan dengan pengetahuan ilmiah baik secara internal, eksternal  maupun sosial. Nilai internal berkaitan dengan wujud dan kegiatan ilmiah dalam memperoleh pengetahuan tanpa mengesampingkan fitrah manusia. Nilai eksternal, berkaitan dengan penggunaan pengetahuan ilmiah. Sedang Nilai Sosial menyangkut pandangan masyarakat yang menilai keberadaan suatu pengetahuan dan profesi tertentu.































 FILSAFAT ILMU DAN METHODE PENELITIAN

ILMU ( SCIENCE ) ADALAH CABANG DARI PENGETAHUAN                            ( KNOWLEDGE )
·         ILMU =  PENGETAHUAN YANG BERSIFAT ILMIAH ( SCIENTIFIC KNOWLEDGE )

KATEGORI PENGETAHUAN :

  1. PENGETAHUAN TENTANG APA YANG BAIK DAN BURUK ( ETIKA )
  2. PENGETAHUAN TENTANG APA YANG INDAH DAN JELEK (ESTETIKA )
  3. PENGETAHUAN TENTANG APA YANG BENAR DAN SALAH ( LOGIKA )
LOGIKA : CARA BERFIKIR MENURUT ATURAN TERTENTU

DALAM KEGIATAN KEILMUAN, LOGIKA ( AKTIVITAS BERFIKIR YANG TERATUR ) DIIKUTI DENGAN PENUH KEDISIPLINAN

ILMU PENGETAHUAN MUNCUL AKIBAT KEKAGUMAN MANUSIA ATAS FENOMENA ALAM DAN SOSIAL YANG SELALU DIHADAPINYA


MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK YANG BERFIKIR ( COGITO ERGO SUM = DESCARTES ), MERASA DAN MENGINDERA DIBEKALI DENGAN RASA INGIN TAHU ( INQUIRING MIND ) :

 
 
YANG DIKEJAR ADALAH PENGETAHUAN YANG BENAR ATAU KEBENARAN BAIK SENSUAL ( RASIONAL ), LOGIKAL (  TEORETIKAL ), ETIKAL/MORAL MAUPUN TRANSENDENTAL/METAFISIKAL
 







PROSES BERFIKIR :

  1. BERFIKIR RASIONAL PROSES UNTUK MENDAPATKAN PEMAHAMAN DAN PENGETAHUAN DENGAN MENGGUNAKAN AKAL-BUDI
  2. BERFIKIR LOGIKAL PROSES UNTUK MENDAPATKAN PEMAHAMAN DAN PENGETAHUAN DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK BERFIKIR YANG TELAH DITETAPKAN DALAM ATURAN LOGIKA FORMAL
  3. BERFIKIR DIALEKTISPROSES MENETAPKAN TESIS DAN ANTI TESIS UNTUK MEMPEROLEH SINTESIS
  4. BERFIKIR INTUITIF PROSES UNTUK MENDAPATKAN PENGETAHUAN DENGAN SEGERA TANPA TERLALU MEMPERDULIKAN PROSEDUR DAN LANGKAH UNTUK SAMPAI PADA PENGETAHUAN TERSEBUT
  5. BERFIKIR TAKSONOMIS PROSES UNTUK MEMPEROLEH PENGETAHUAN DENGAN MENYUSUN KLASIFIKASI, TUJUANNYA ADALAH MENYEDERHANAKAN FENOMENA DAN GEJALA DALAM KATEGORI
  6. BERFIKIR SIMBOLIS PROSES UNTUK MEMPEROLEH PEMAHAMAN DAN PENGETAHUAN DENGAN MELIHAT FENOMENA SEBAGAI LAMBANG ( SIMBOL )

·                     ILMU ( PENGETAHUAN ILMIAH ) TIDAK BERTUJUAN UNTUK MENCARI KEBENARAN ABSOLUT, MELAINKAN KEBENARAN YANG BERMANFAAT BAGI MANUSIA DALAM TAHAP PERKEMBANGAN TERTENTU

·                     UNTUK MEMPEROLEH KEBENARAN  BISA DICAPAI DENGAN DUA CARA : NON-ILMIAH DAN ILMIAH :

NON-ILMIAH :
1.      AKAL-SEHAT ( COMMON SENSE ) – YAITU MENYUSUN DAN MEMBUAT GENERALISASI ATAS FENOMENA DENGAN MENGGUNAKAN AKAL-SEHAT;
2.      PRASANGKA ( PRESUMPTION ) – MEMPEROLEH PENGETAHUAN DENGAN MEMBUAT GENERALISASI YANG SANGAT LUAS SEHINGGA TIMBUL SANGKA/DUGAAN KEBENARAN ATAS SUATU FENOMENA
3.      INTUISI ( INTUITION )- PENGETAHUAN YANG DIPEROLEH SECARA CEPAT YANG TIDAK DIDASARI OLEH PERENUNGAN YANG MENDALAM ATAU TIDAK DIFIKIRKAN TERLEBIH DAHULU
4.      PENEMUAN KEBETULAN / COBA-COBA – PENGETAHUAN YANG DIPEROLEH TANPA RENCANA, TIDAK PASTI, DAN TIDAK MELALUI LANGKAH-LANGKAHYANG SISTEMATIK DAN TERKENDALI
5.      PENDAPAT OTORITAS ILMIAH DAN FIKIRAN KRITIS – PENDAPAT YANG BERASAL DARI ORANG YANG MEMPUNYAI OTORITAS KEILMUAN ( BERPENDIDIKAN ) YANG TINGGI SERINGKALI DITERIMA TANPA DIUJI KARENA TELAH DIANGGAP BENAR

ILMIAH :
UPAYA UNTUK MEMPEROLEH KEBENARAN LEWAT PENDEKATAN / PENELITIAN ILMIAH YAITU PENELITIAN YANG SISITEMATIK DAN TERKONTROL BERDASAR ATAS DATA EMPIRIS, OBYEKTIF DAN TIDAK BIAS

TUGAS ILMU ADALAH UNTUK : 1) MENCANDRA / MEMBUAT DESKRIPSI; 2) MENERANGKAN / EKSPLANASI; 3) MENYUSUN TEORI; 4) MEMBUAT PREDIKSI, ESTIMASI DAN PROYEKSI;                                  5) MELAKUKAN PENGENDALIAN

KRITERIA KEBENARAN



 


KOHERENSI                              KORESPONDENSI                              PRAGMATIS
LOGIKA DEDUKTIF                  LOGIKA INDUKTIF               LOGIKA PRAGMATIS
   

* PLATO
* ARISTOTELES

SUATU PERNYA-TAAN DIANGGAP   BENAR APABILA PERNYATAAN ITU               KOHEREN / KONSIS-TEN DENGAN PERNYATAAN SEBELUMNYA YANG DIANGGAP BENAR. MISALNYA : “SEMUA MANUSIA PASTI AKAN MATI. SI FULAN ADALAH MANUSIA DAN PASTI IA AKAN MATI ”  



*BERTRAND RUSSEL

SUATU PERNYA-TAAN ADALAH BENAR BILA PERNYATAAN ITU BERKORES-PONDENSI DENGAN OBYEK YANG DI- TUJU OLEH PER-NYATAAN TERSEBUT. MISAL-NYA :   IBUKOTA RI ADALAH JAKARTA”. ITU ADALAH SUATU PEMBUKTIAN SECARA EMPIRIK DALAM BENTUK PENGUMPULAN FAKTA-FAKTA YANG MENDUKUNG PERNYATAAN TERTENTU.
*  CHARLES PIERSE

SUATU PERNYA-TAAN ADALAH BENAR BILA PERNYATAAN ATAU KONSEKWENSI DARI PERNYATAAN ITU MEMPUNYAI KEGU-NAAN PRAKTIS DA-LAM KEHIDUPAN MANUSIA. MISAL-NYA : “DENGAN DI BERI GANJARAN / HADIAH SI MURID AKAN TERMOTIVASI BELAJAR DENGAN BAIK “


·         FILSAFAT ILMU SEBAGAI SALAH SATU CABANG ILMU FILSAFAT ADALAH MERUPAKAN KEGIATAN MEREFLEKSI SECARA MENDASAR DAN INTEGRAL MENGENAI HAKEKAT ILMU PENGETAUAN ( Kunto Wibisono : 1999 )

·         OBYEK FILSAFAT ILMU ADALAH MERUPAKAN TIANG-TIANG PENYANGGA EKSISTENSI LMU PENGETAHUAN YANG MELIPUTI ;            1) ONTOLOGI ; 2) EPISTEMOLOGI ; DAN  3) AKSIOLOGI


ONTOLOGI :  MENGKAJI APA HAKEKAT SESUATU ITU ? FAHAM-FAHAM SEPERTI IDEALISME, SPIRITUALISME, MATERIALISME DSB. ADALAH MERUPAKAN FILSAFAT ONTOLOGI.


EPISTEMOLOGI :  MENGKAJI TENTANG BAGAMANA CARA YANG DIPAKAI UNTUK MEMPEROLEH PENGETAHUAN, APA SARANANYA DAN APA UKURAN YANG DIPAKAI UNTUK MEMPEROLEH KEBENARAN ? FAHAM-FAHAM RASIONALISME, EMPIRISME, KRITISISME, POSITIVISME DAN FENOMENALOGISME TERMASUK KE DALAM FILSAFAT EPISTEMOLOGI.


AKSIOLOGI :  MENGKAJI TENTANG NILAI ( VALUE ) SEBAGAI IMPERATIF DALAM PENERAPAN DAN PEMANFAATAN ILMU SECARA PRAKSIS.



·         PERBEDAAN PANDANGAN ANTARA FAHAM POSITIVISM   DAN POST POSITIVISM TENTANG KETIGA TIANG ILMU YAITU :

-          ONTOLOGI,
-          EPISTEMOLOGI ,DAN
-          AKSIOLOGI










DAPAT DILIHAT SEBAGAI BERIKUT :

1.      Y.S. LINCOLN & E.G. GUBA , 1985, NATURALISTIC INQUIRY :


CONTRASTING POSITIVIST AND NATURALIST AXIOMS


AXIOMS ABOUT :
POSITIVIST PARADIGM
NATURALIST PARADIGM

THE NATURE OF REALITY

REALITY IS SINGLE, TANGIBLE AND FRAGMENTABLE
REALITIES ARE MULTIPLE, CONSTRUCTED, AND HOLISTIC
THE RELATIONSHIP OF THE KNOWER TO THE KNOWN
KNOWER AND KNOWN ARE INDEPENDENT, A DUALISM
KNOWER AND KNOWN ARE
INTERACTIVE, INSEPARABLE

THE POSSIBILITY OF GENERALIZATION
TIME AND CONTEXT-FREE,GENERALIZATION               ( NOMOTHETIC STATEMENTS ) ARE POSSIBLE
ONLY TIME AND CONTEXT-BOUND WORKING HYPOTHESES
( IDIOGRAPHIC STATEMENTS ) ARE POSSIBLE
THE POSSIBILITY OF CAUSAL LINKAGES
THERE ARE REAL CAUSES ,TEMPORALLY PRECEDENT TO OR SIMULTANEOUS WITH THEIR EFFECTS
ALL ENTITIES ARE IN A STATE OF MUTUAL SIMULTANEOUS SHAPING ,SO THAT IT IS IMPOSSIBLE TO DISTINGUISH CAUSES FROM EFFECTS

THE ROLE OF VALUES
INQUIRY IS VALUE-FREE
INQUIRY IS VALUE-BOUND










2.    J.W. CRESWELL, 1994, RESEARCH DESIGN :  QUALITATIVE  & QUANTI-TATIVE APPROACHES.

QUANTITATIVE AND QUALITATIVE PARADIGM ASSUMPTIONS


ASSUMPTION

QUESTION
QUANTITATIVE
QUALITATIVE

ONTOLOGICAL ASSUMPTION

WHAT IS THE NATURE OF REALITY ?

REALITY IS OBJECTIVE AND SINGULAR, APART FROM THE RESEARCHER
REALITY IS SUBJECTIVE AND MULTIPLE AS SEEN BY PARTICIPANT IN A STUDY

EPISTEMOLOGI-CAL ASSUMPTION
WHAT IS THE RELATIONSHIP OF THE RESEARCHER TO THAT RESEARCHED ?

REALITY IS INDEPENDENT FROM THAT BEING RESEARCHED
RESEARCHER INTERACTS WITH THAT BIENG RESEARCHED
AXIOLOGICAL ASSUMPTION
WHAT IS THE ROLE OF VALUES ?
VALUE-FREE AND UNBIASED
VALUE-LADEN AND BIASED
RHETORICAL ASSUMPTION
WHAT IS THE LANGUAGE OF RESEARCH ?
FORMAL; BASED ON SET DEFINITIONS; IMPERSONAL VOICE; USE OF ACCEPTED QUANTITATIVE WORDS
INFORMAL; EVOLVING DECISIONS; PERSONAL VOICE; ACCEPTED QUALITATIVE WORDS
METHODOLOGI-CAL ASSUMPTION
WHAT IS THE PROCESS OF THE RESEARCH ?
DEDUCTIVE PROCESS; CAUSE AND EFFECT; STATIC DESIGN-CATEGORIES ISOLATED BEFORE STUDY; CONTEXT-FREE; GENERALIZA-TIONS LEADING TO PREDICTION, EXPLANATION,AND UNDER-STANDING; ACCURATE AND RELIABLE THROUGH VALIDITY AND RELIABILITY

INDUCTIVE PROCESS; MUTUAL SIMULTANEOUS SHAPING OF FACTORS; EMERGING DESIGN-CATEGORIES IDENTIFIED DURING RESEARCH PROCESS; CONTEXT- BOUND; PATTERNS, THEORIES DEVELOPED FOR UNDER-STANDING; ACCURATE AND RELIABLE THROUGH VERIFICATION








SOURCE : BASED ON FIRESTONE (1987); GUBA & LINCOLN (1988); AND Mc CRAKEN (1988)


PERTANYAAN “ APAKAH ILMU ITU BEBAS NILAI ( VALUE FREE ) ATAUKAH SARAT DENGAN NILAI ( VALUE BOUND ) ?

KUNTO WIBISOSNO (1999) MENYATAKAN BAHWA ILMU PENGETAHUAN SEBAGAI SATU KESATUAN MENAMPAKKAN DIRI SECARA DIMENSIONAL : 1) SEBAGAI MASYARAKAT – ADANYA SEKELOMPOK ELIT YANG DALAM KEHIDUPANNYA MENDAMBAKAN KEWAJIBAN DAN TANGGUNGJAWAB; 2) SEBAGAI PROSES – ADALAH AKTIFITAS MASYARAKAT ILMIAH SEPERTI PENELITIAN,  SEMINAR, PERCOBAAN DSB. MENCARI DAN MENEMUKAN SESUATU HASIL YANG  PRAGMATIS ; DAN  3) SEBAGAI PRODUK – MENUNJUKAN HASIL-HASIL YANG BERUPA KARYA ILMIAH, TEORI-TOERI, PARADIGMA-PARADIGMA BESERTA HASIL TERAPANNYA YANG BERUPA TEKNOLOGI.



ILMU SEBAGAI PRODUK ADALAH BEBAS NILAI  ;  SEDANGKAN ILMU SEBAGAI MASYARAKAT DAN PROSES YANG SELALU BERADA DALAM KONTEKS SELALU TERIKAT OLEH NILAI.
ILMU SEBAGAI PRODUK PUN, SEBENARNYA APABILA DITERAPKAN SECARA PRAKTIS UNTUK MENCAPAI TUJUAN SECARA IMPLISIT SUDAH DIKENDALIKAN OLEH NILAI !



ALIRAN-ALIRAN UTAMA EPISTEMOLOGI ILMU

1.      POSITIVISME
    • AUGUSTE COMTE
    • UPAYA MENGGENERALISASI RERATA

1.1.GRAND THEORY ‘ HUKUM TIGA TAHAP PERKEMBANGAN ‘ , PERKEMBANGAN PEMIKIRAN MANUSIA TERBAGI MENJADI TIGA TAHAP : 1) TAHAP TEOLOGIS ATAU FIKTIF; 2) TAHAP METAFISIK ATAU ABSTRAK; 3) TAHAP POSITIF ATAU RIIL
1.2.MENOLAK TEOLOGI DAN METAFISIK KARENA KEDUANYA DINILAI PRIMITIF
1.3.LEBIH DIDASARKAN PADA PENELITIAN EMPIRIK DARIPADA SPEKULASI FILOSOFIK
1.4.ILMU YANG VALID ADALAH ILMU YANG DIBANGUN DARI EMPIRI MENUJU KEBENARAN ‘EMPIRI SENSUAL’
1.5.MENGEMBANGKAN METODOLOGI ’NOMOTETIK/AKSIOMATIK’
1.6.METODOLOGI PENELITIAN KUANTITATIF
1.7.PENDEKATAN POSITIVISTIK DENGAN : A)  MENGGUNAKAN POLA PIKIR KUANTITATIF YANG TERUKUR, TERAMATI, EMPIRI SENSUAL, LOGIKA MATEMATIK DAN BERTUJUAN MEMBUAT GENERALISASI ATAS RERA-TA ; B) MENGGABUNGKAN OLAHAN STATISTIK DENGAN OLAHAN VERBAL DENGAN POLA PIKIR KUANTITATIF
1.8.KEBENARAN DICARI LEWAT POLA PIKIR RELASI ( KORELASIONAL, SEBAB-AKIBAT, INTERAKTIF ), YANG :
·         SECARA ONTOLOGIK MELIHAT REALITAS DAPAT DIPILAH-PILAH DAN DAPAT DIPELAJARI SECARA INDEPENDEN DAN DIELIMINA-SIKAN DARI OBYEK YANG LAIN DAN DAPAT DIKONTROL
·         SECARA EPISTEMOLOGIK MENUNTUT DIKOTOMI ANTARA PENELITI DENGAN OBYEK PENELITIAN AGAR DIPEROLEH HASIL YANG OBYEKTIF. TUJUAN PENELITIANNYA ADALAH MEMBANGUN ILMU NOMOTETIK/AKSIOMATIK YAKNI ILMU YANG MEMBUAT HUKUM DARI GENERALISASI RERATANYA
·         SECARA AKSIOLOGIK PENDEKATAN POSITIVISME PROSESNYA HARUS BEBAS NILAI ( VALUE FREE ), DAN YANG DIKEJAR ADALAH ‘OBYEKTIVITAS’ AGAR DAPAT DISAJIKAN PREDIKSI/HUKUM YANG KEBERLAKUANNYA BEBAS WAKTU DAN TEMPAT ( SPATIO-TEMPORAL ) 


2. RASIONALISME
§    DESCARTES
§    UPAYA UNTUK MEMPEROLEH ESENSI / KEBENARAN APRIORI
§ BERSIFAT SOLIPSISTIK ( HANYA BENAR MENURUT KERANGKA FIKIR TERTENTU ) DAN SUBYEKTIF

2.1        SEMUA ILMU BERASAL DARI PEMAHAMAN INTELEKTUAL  MANUSIA YANG DIBANGUN ATAS KEMAMPUAN BERARGUMENTASI SECARA LOGIS, BUKAN DIBANGUN ATAS PENGALAMAN EMPIRI TETAPI MENEKANKAN PADA PEMAKNAAN EMPIRI YANG DIDUKUNG OLEH DATA EMPIRIK YANG RELEVAN
2.2        KEGIATAN BERARGUMENTASI DAN MEMBERI MAKNA SELALU DIDAHULUI DENGAN UJI EMPIRIK SECARA TERUS-MENERUS
2.3        ILMU YANG VALID MERUPAKAN ABSTRAKSI, SIMPLIFIKASI ATAU IDEALISASI DARI REALITAS DAN TERBUKTI RELEVAN ATAU KOHEREN DENGAN SISTEM LOGIKNYA
4.1        REALITAS TIDAK DAPAT/TIDAK MUDAH DIHAYATI SECARA SENSUAL SAJA SEHINGGA DIATAS EMPIRI SENSUAL ADA EMPERI LOGIKAL / TERORITIKAL DAN DIAKUI ADANYA PENGHAYATAN MANUSIA MENGENAI NILAI BAIK DAN BURUK ( PENGAKUAN ATAS EMPIRI SENSUAL, LOGIKAL DAN ETIKAL )
2.5        PENELITIAN DENGAN PENDEKATAN RASIONALISME : A) MENUNTUT  SIFAT OBYEK YANG HOLISTIK; B) OBYEK PENELITIAN TIDAK DILEPASKAN DARI KONTEKSNYA ATAU PALING JAUH OBYEK DITELITI DALAM FOKUS ATAU TEKANAN TERTENTU
2.6        MENGEJAR DIPEROLEHNYA GENERALISASI ATAU HUKUM-HUKUM            ( NOMOTETIK/AKSIOMATIK ) TETAPI BEDANYA DENGAN POSITIVISME YANG BERTOLAK DARI OBYEK YANG SPESIFIK, SEDANGKAN RASIONALISME BERTOLAK DARI KONSTRUKSI ‘TEORI BESAR’ ATAU ‘KONSEP BESAR’ DAN OBYEK YANG HOLISTIK
2.7        SELAIN MENGENAL POLA FIKIR RELASIONAL ( KORELASIONAL, SEBAB-AKIBAT, INTERAKTIF ) JUGA POLA FIKIR GENETIK , HISTORIK, ANTISIPATIK, REFLEKTIF, KONTEKSTUAL DAN EKLEKTIK
2.8        MENGAKUI KEKUATAN FIKIR MANUSIA UNTUK MEMBERIKAN MAKNA PADA LINGKUNGAN DAN PADA DIRI MANUSIA





2.9        SECARA ONTOLOGIK RASIONALISME MELIHAT REALITAS TIDAK PILAH DARI KONTEKS TOTALITASNYA DAN MENGAKUI TIGA MACAM EMPIRI : SENSUAL, LOGIKAL DAN ETIKAL
SECARA EPISTEMOLOGIK RASIONALISME BERUPAYA MENCARI KEBENARAN DENGAN MENGGUNAKAN KETIGA EMPIRI TERSEBUT UNTUK MENGKONTRUKSI TEORI TERTENTU. RASIONALISME LEBIH MENGARAH KE ADANYA MONOISME TEORITIK DARIPADA  PLURALISME TEORITIK
SECARA  AKSIOLOGIK RASIONALISME TIDAK HANYA INGIN MEMPEROLEH ILMU YANG NOMOTETIK / AKSIOMATIK TETAPI JUGA GENERALISASI HARUS MERUPAKAN HASIL UJI MAKNA  EMPIRIK DAN REFLEKTIF

3. EMPIRISISME
§ JOHN LOCKE
§ MENEKANKAN PENTINGNYA PENGALAMAN ( KEBENARAN APOSTERIORI )

3.1        PENGETAHUAN DIPEROLEH LEWAT PENGALAMAN INDERAWI MANUSIA
3.2        PENGETAHUAN DIPEROLEH DENGAN JALAN MENGGUNAKAN DAN  MEMBANDINGKAN GAGASAN-GAGASAN YANG DIPEROLEH DARI PENGINDERAAN DENGAN REFLEKSINYA
3.3        BERBEDA DENGAN POSITIVISME, AKAL MANUSIA HANYA MERUPAKAN TEMPAT PENAMPUNGAN YANG SECARA PASIF MENERIMA HASIL PENGINDERAAN MANUSIA
3.4        GEJALA-GEJALA ALAMIAH BERSIFAT KONKRET DAN DIUNGKAP LEWAT PENGINDERAAN DAN BILA DITELAAH LEBIH LANJUT AKAN MENGHASILKAN PENGETAHUAN DENGAN KARAKTERISTIK TERTENTU  ( LOGAM AKAN MENGEMBANG BILA DIPANASKAN )
3.5        MENGGUNAKAN CARA BERFIKIR INDUKTIF
3.6        FAKTA ADALAH NYATA KARENA DAPAT DITANGKAP DENGAN INDERA MANUSIA
3.7        SECARA ONTOLOGIK REALITAS ( KEBENARAN ) ITU ADALAH MERUPAKAN BENTUK DARI PENGALAMAN MANUSIA;
SECARA EPISTEMOLOGIK EMPIRISISME LEBIH MENEKANKAN PENTINGNYA EMPIRI SENSUAL DAN PENGETAHUAN DIBENTUK ATAS DASAR PENGALAMAN INDERAWI MANUSIA; DAN
SECARA AKSIOLOGIK  EMPIRISISME MENGAKUI ADANYA KEBENARAN EMPIRI SENSUAL DAN KURANG MEMBERI NILAI PADA PERAN EMPIRI LOGIKAL





4. FENOMENOLOGISME
§   EDMUND HUSSERL
§   UPAYA MEMAHAMI ‘MAKNA‘ PERISTIWA DAN INTERAKSI MANUSIA PADA SITUASI TERTENTU

4.1        ILMU TIDAK TERBATAS PADA HAL YANG EMPIRIK SENSUAL SAJA TETAPI JUGA MENCAKUP PELBAGAI FENOMENA SEPERTI : PERSEPSI, PEMIKIRAN, KEMAUAN DAN KEYAKINAN SUBYEK TENTANG SESUATU DILUAR DIRINYA, ADA YANG TRANSENDEN SELAIN JUGA YANG APOSTERIORIK
4.2        MENUNTUT PENDEKATAN HOLISTIK, MENDUDUKKAN OBYEK PENELITIAN DALAM SUATU KONSTRUKSI GANDA DAN MELIHAT OBYEKNYA DALAM SUATU KONTEKS NATURAL DAN PARSIAL
4.3        MELIHAT OBYEK DALAM KONTEKSNYA DAN MENGGUNAKAN TATA FIKIR LOGIK LEBIH DARI SEKEDAR BERFIKIR LINEAR-KAUSAL
4.4        BERTUJUAN MEMBANGUN ILMU IDIOGRAFIK ( KASUS INDIVIDUAL ) DAN BUKANNYA ILMU NOMOTETIK / AKSIOMATIK
4.5        HASIL PENELITIAN FENOMOLOGIS KEABSAHANNYA DIKAJI LEWAT UJI : KREDIBILITAS ; TRANSFERABILITAS ; DEPENDABILITAS ; DAN KONFIRMABILITAS , YANG MIRIP DENGAN VALIDITAS INTERNAL, VALIDITAS EKSTERNAL, RELIABILITAS DAN OBYEKTIFITAS PADA ANCANGAN POSITIVISME
4.6        SECARA ONTOLOGIK FENOMENOLOGISME MELIHAT REALITAS ITU KOMPLEKS, TERTATA, PUNYA BERBAGAI PERSPEKTIF DAN SALING BERHUBUNGAN SECARA INTERAKTIF SERTA SELALU TERKAIT DENGAN WAKTU DAN KONTEKS
SECARA EPISTEMOLOGIK FENOMENOLOGISME MENUNTUT MENYATUNYA ( BUKAN PILAH ) PENELITI DENGAN OBYEK PENELITIANNYA. INTERAKSI OBYEK-SUBYEK BUKANLAH MERUPAKAN HUBUNGAN YANG BERSIFAT KAUSALITAS-LINEAR, TETAPI HUBUNGAN TIMBAL-BALIK HETERARKHIK, INDETERMINATIF DAN MORPHOGENIK , MUTUAL SHAPING . TEORI DAN FAKTA DITENTUKAN OLEH NILAI , YAITU : 1) NILAI DARI PIHAK PENELITI ITU SENDIRI; 2) NILAI DALAM KONTEKS KULTURAL OBYEK PENELITIANNYA; 3) NILAI YANG TERJABARKAN DALAM SUBSTANSI PENELITIAN; 4) NILAI YANG TERJABARKAN PADA METODOLOGI PENELITIAN.








SECARA AKSIOLOGIK  FENOMENOLOGISME MENGAKUI ADANYA KEBENARAN EMPIRI ETIKAL ( VALUE BOUND / VALUE LADEN ) DAN MENGENAL PULA KEBENARAN TRANSENDENTAL, SENSUAL DAN LOGIKAL.

        PERANG TANDING ANTARA EPISTEMOLOGI  RASIONALISME ( YANG LEBIH MENGEDEPANKAN EMPIRI LOGIKAL ) MELAWAN EMPIRISISME ( YANG LEBIH MEMENTINGKAN EMPIRI SENSUAL ) DICOBA DITENGAHI OLEH IMMANUEL KANT DENGAN FAHAM  FENOMENALISME.
KEDUA FAHAM, RASIONALISME YANG CENDERUNG BERPOLA FIKIR APRIORIK DAN EMPIRISISME YANG BERPOLA FIKIR APOSTERIORIK DINILAI KANT KEDUANYA TIMPANG ATAU BERAT SEBELAH. IA MENEGASKAN BAHWA PENGETAHUAN MANUSIA MERUPAKAN PERPADUAN DAN SINTESIS ANTARA KOMPONEN APRIORI DAN APOSTERIORI.






























METODE ILMIAH
( J.S. Suriasumantri, 1985 )










KHASANAH
PENGETAHUAN
ILMIAH
 



PENYUSUNAN
KERANGKA
BERFIKIR
 


DEDUKSI


 
KOHERENSI

















PERUMUSAN
HIPOTESIS
 


 






      

     PRAGMATISME




 


INDUKSI
KORESPONDENSI




 





                                                                                                                   

THE FLOW OF NATURALISTIC INQUIRY
( Source : Y.S.Lincoln & E.G.Guba , 1985 )


NATURAL SETTING
 
 



CARRIED OUT WITHIN                                                                                        ALL TESTED FOR :
PROBLEM, EVALUAND ,OR                                                                                 . CREDIBILITY
POLICY OPTION DETER                                                                                          . TRANSFERABILITY
MINED BOUNDARIES                                                                                                . DEPENDABILITY
                                                                                                                                          CONFIRMABILITY
DEMANDS                


 


                  


HUMAN
INSTRUMENT
 
 
TACIT
KNOWLEDGE
METHODS
 
QUALITATIVE
METHODS
 
      BUILDING ON                                                                                          USING 




 


ENGAGING IN
 




INTERATED
UNTIL
REDUNDANCY
                                      


 




INVOLVING


 




LEADING TO


 




WHICH IS BOTH


 




MENDESAIN DAN MELAKSANAKAN PENELITIAN KUALITATIF


§    SETIAP CALON PENELITI YANG HENDAK MELAKSANAKAN SUATU KEGIATAN PENELITIAN , HENDAKNYA TERLEBIH DAHULU MENDALAMI 4 HAL PENTING YAKNI :

1.                  PARADIGMA / TEORI , YAKNI SERANGKAIAN KONSEP YANG BERSIFAT EKSPLANATIF
2.                  HIPOTESIS , SUATU PROPOSISI YANG BISA DIUJI / DITES KEBENARANNYA
3.                  METODOLOGI , SUATU PENDEKATAN UMUM UNTUK MENGKAJI SUATU TOPIK PENELITIAN
4.                  METODE , SUATU TEKNIK PENELITIAN YANG DIPILIH UNTUK MELAKSANAKAN PENELITIAN
  
CONTOH

1.            SUATU PENELITIAN YANG BERPARADIGMA POST POSITIVISM, MISALNYA ‘ INTERAKSI SIMBOLIK ‘ MENCOBA UNTUK MENGKAJI MAKNA-MAKNA SOSIAL YANG TERBENTUK KARENA ADANYA HUBUNGAN-HUBUNGAN ANTAR PRIBADI TENTANG SIKAP KAUM PEREMPUAN  MENGENAI KUOTA 30% DI LEMBAGA LEGISLATIF;
2.            HIPOTESA KERJA LOKAL YANG DISUSUN DAN DIUJI DI KANCAH MISALNYA : ‘ SEMAKIN KUATNYA TUNTUTAN KAUM PEREMPUAN DI KOTA X UNTUK MASUK DI LEMBAGA LEGISLATIF ’
3.             TOPIK PENELITIAN YANG DIKAJI LEWAT METODOLOGI KUALITATIF-NATURALISTIK ATAU ‘ VERSTEHEN ‘
4.            DENGAN MENGGUNAKAN METODE OBSERVASI, WAWANCARA, ANALISIS TEKS DAN DOKUMENTASI

METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF UNTUK KAJIAN KEBIJAKAN              ( BAIK PUBLIK MAUPUN BISNIS ) MENURUT JANE RITCHIE & LIZ SPENCER     ( 1994 ) TERBAGI KE DALAM 4 KATEGORI , YAKNI :

1.            CONTEXTUAL  : BERTUJUAN UNTUK MENGIDENTIFIKASI FORMAT / BENTUK DAN HAKEKAT KARAKTERISTIK SUATU KEBIJAKAN YANG SEDANG BERJALAN.
MISALNYA  : MENGKAJI TENTANG WUJUD PELAKSANAAN KEBIJAKAN PENGADAAN BERAS MURAH BAGI MASYARAKAT MISKIN DI SUATU DAERAH ( GERDU-TASKIN )

2.            DIAGNOSTIC       :  BERTUJUAN UNTUK MENELAAH ALASAN-ALASAN ATAU SEBAB-SEBAB MENGAPA SUATU KEBIJAKAN PERLU DI BUAT
MISALNYA  : SUATU KAJIAN TENTANG PERLUNYA PENANGGULANGAN KEMISKINAN LEWAT PROYEK JPS-PDMDKE.

3.            EVALUATIVE  : BERTUJUAN UNTUK MENILAI EFEKTIVITAS PELAKSANAAN SUATU KEBIJAKAN
MISALNYA  : SUATU KAJIAN TENTANG PERLU TIDAKNYA PEMERINTAH MEMPRIVATISASIKAN PENGADAAN AIR MINUM BAGI MASYARAKAT
 
4.            STRATEGIC             : BERTUJUAN MENGIDENTIFIKASI PERLUNYA SUATU KEBIJAKAN BARU UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN HIDUP MASYARAKAT
MISALNYA  : SUATU KAJIAN TENTANG PERLUNYA KEBIJAKAN ECO LABELLING BAGI PRODUK KEMASAN MAKANAN



§    DESAIN PENELITIAN KUALITATIF MENURUT PANDANGAN Y.S.LINCOLN & E.G.GUBA ( 1985 ), NATURALISTIC INQUIRY.

1.            PENELITIAN SELALU DIAWALI DENGAN PENETAPAN ‘ FOKUS PENELITIAN ‘ YANG BIASANYA BERUPA MASALAH, HAL-HAL YANG AKAN DIEVALUASI, PILIHAN / OPSI KEBIJAKAN YANG BISA BERUBAH-UBAH

2.            TEORI DIMUNCULKAN DARI HASIL PENELITIAN LAPANGAN ( TEORI BERDASAR DATA ) SEHINGGA MASALAH DAN METODE PENGUMPULAN DATA DAPAT BERUBAH SEHUBUNGAN DENGAN PENETAPAN TEORI DI LAPANGAN


3.            SAMPLE PENELITIAN BUKANLAH MERUPAKAN ‘ REPRESENTASI ‘ DARI POPULASI ( STATISTICAL SAMPLING ) YANG HARUS REPRESENTATIF TETAPI MERUPAKAN SUATU CARA UNTUK MEMAKSIMALKAN BESARAN INFORMASI YANG DIINGINKAN ( DALAM KONTEKS PENYUSUNAN TEORI ) SEHINGGA BERNUANSA SAMPLE TEORITIS ( THEORETICAL SAMPLING ) YANG PAS/COCOK DAN SERIAL     ( ‘CONTINGENT AND SERIAL’ )

4.            INTRUMEN PENELITIAN TIDAK BERSIFAT EKSTERNAL ( OBYEKTIF SEPERTI MISALNYA LEWAT PERTANYAAN DENGAN JAWABAN PILIHAN GANDA YANG DI TETAPKAN TERLEBIH DAHULU OLEH PENELITI ), TETAPI BERSIFAT INTERNAL  ( SUBYEKTIF ) YANG DIMAKSUDKAN AGAR PENELITI  MAMPU MEMBACA , MEMOTRET DAN MEMBERI MAKNA ATAS FENOMENA YANG AKAN DIKAJINYA


5.            ANALISIS DATA BERSIFAT ‘ OPEN ENDED ‘ DAN ‘ INDUKTIF ‘ MERUPAKAN CARA TERBAIK AGAR DATA YANG DIANALISIS MEMPUNYAI MAKNA, YAKNI DENGAN MEMPERPANJANG PROSES PENELITIAN DAN MEMAHAMI SECARA MAKSIMAL DAN MENDALAM   ( VERSTEHEN  ) FENOMENA YANG DIKAJI SESUAI DENGAN KONTEKKSNYA

6.            PENENTUAN JUMLAH BIAYA PENELITIAN AGAK SUKAR DITETAPKAN DENGAN TEPAT KARENA TUJUAN PENELITIAN , YAITU MENJAWAB PERTANYAAN PENELITIAN , AGAR TERCAPAI SULIT DIJADWAL

7.            HASIL PENELITIAN KUALITATIF AGAK SUKAR DITETAPKAN SECARA SPESIFIK SEPERTI MISALNYA DENGAN MENARIK GENERALISASI           ( SEPERTI PADA PENELITIAN KUANTITATIF ) KARENA SELAIN HASILNYA BERSIFAT TENTATIF IA JUGA BERSIFAT SUBSTANTIF & SUBYEKTIF  ( IDIOGRAFIS ) --- YAITU MENGGAMBARKAN SECARA MENDALAM ‘TACIT KNOWLEDGE ‘ DARI SUBYEK PENELITIANNYA SECARA ALAMI. GENERALISASI HASIL PENELITIANNYA HANYA DIMUNGKINKAN BILA HASIL UJI TERHADAP KEABSAHAN DATANYA YANG MELIPUTI CREDIBILITY, TRANSFERABILITY, DEPENDABILITY DAN CONFIRMABILITY  MENUNJUKAN TINGKAT KEPERCAYAAN HASIL YANG SANGAT TINGGI. INILAH YANG KEMUDIAN OLEH LINCOLN DAN GUBA DISEBUT  DENGAN ISTILAH TRUSTWORTHINESS.



§    UNSUR-UNSUR DESAIN DAN LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN KUALITATIF MENURUT GAGASAN LINCOLN DAN GUBA ( 1985 )


1.            MERANCANG DAN MENETAPKAN SUATU FOKUS PENELITIAN YANG BERANGKAT DARI ADANYA MASALAH TERTENTU ( PROBLEM ), OBYEK PENILAIAN ( EVALUAND ) DAN OPSI KEBIJAKAN ( POLICY OPTION )

2.            MERANCANG DAN MENETAPKAN KECOCOKAN ‘ PARADIGMA PENELITIAN ‘ DENGAN ‘ FOKUS PENELITIAN ‘.
WALAUPUN TIDAK ADA RUMUS BAKU UNTUK INI TETAPI SEBELUMNYA PERLU DIJAWAB BEBERAPA PERTANYAAN  ( AKSIOMA PARADIGMA PENELITIAN ) SBB :
2.1  APAKAH FENOMENA YANG AKAN DITELITI BERSIFAT GANDA ATAU TUNGGAL ?
2.2  BAGAIMANAKAH BENTUK HUBUNGAN ANTARA PENELITI DENGAN FENOMENA YANG HENDAK DITELITINYA ?
2.3  SEJAUHMANAKAH TINGKAT KETERGANTUNGAN KONTEKS               ( INSIDER PERSPECTIVE  =  PENELITIAN KUALITATIF ?  ATAUKAH  OUTSIDER PERSPECTIVE ? = PENELITIAN KUANTITATIF ? )
2.4  APAKAH ADA ALASAN YANG CUKUP UNTUK MENJELASKAN HUBUNGAN KAUSALITAS TERHADAP UNSUR-UNSUR FENOMENA YANG AKAN DIKAJI ?
2.5  SEJAUHMANAKAH NILAI-NILAI TERTENTU AKAN MEMPENGARUHI HASIL PENELITIANNYA ( BEBAS NILAI ATAUKAH SARAT NILAI )

3.            MERANCANG DAN MENETAPKAN KECOCOKAN PARADIGMA PENELITIAN  DENGAN TEORI SUBSTANTIF YANG AKAN DIPILIH UNTUK MENGARAHKAN PENELITIANNYA ( UNTUK MENGHASILKAN TEORI SUBSTANTIF DARI DATA )

4.            MERANCANG DAN MENETAPKAN ‘ SAMPEL ‘ PENELITIAN DIMANA DAN DARI SIAPA DATA AKAN DIKUMPULKAN  ( SAMPEL BERTUJUAN =  PURPOSIVE SAMPLE ) ---- DATA DIPEROLEH DARI ‘ SAMPEL ‘ YANG BERGULIR TERUS ( SNOWBALL SAMPLING ) ---- SEHINGGA DATANYA JENUH ( SATURATED DATA ) ATAU SESUAI DENGAN INFORMASI YANG DIINGINKANNYA TERCAPAI

5.            MERANCANG TAHAP / LANGKAH PENELITIAN  :

5.1.MENETAPKAN PROSES PENELITIAN PADA LATAR YANG ALAMI                             ( NATURAL SETTING ). PENELITIAN KUALITATIF HARUS DILAKUKAN   PADA LATAR YANG ALAMI KARENA FENOMENA FISIK, KIMIAWI, SOSIAL, PSIKOLOGI, BIOLOGI ITU AKAN MEMPUNYAI MAKNA YANG HAKIKI DALAM KONTEKS YANG ASLI (  IN SITU NOT IN VITRO ENVIRONMENTS ) ;
5.2.MENETAPKAN PENELITI SEBAGAI INSTRUMEN PENELITIAN YANG UTAMA ( HUMAN AS INSTRUMENT ). SECARA KONVENSIONAL TELAH LAMA DIAKUI BAHWA MANUSIA DAPAT MEMPEROLEH DATA YANG SANGAT DAPAT DIPERCAYA DENGAN CARA YANG SANGAT OBYEKTIF;
5.3.MEMUSATKAN DIRI PADA ‘ PENGETAHUAN YANG TAK TERKA-TAKAN ‘ ( TACIT KNOWLEDGE ). PENGETAHUAN TAK TERKATAKAN INI BISA SAJA BERASAL DARI OBYEK ATAU PERISTIWA TERTENTU , TETAPI YANG JELAS ‘ PTT ‘ INI DIPEROLEH  DARI PENGALAMAN KITA DENGAN OBYEK DAN PERISTIWA TSB ;
5.4.MENETAPKAN PENGGUNAAN METODE KUALITATIF KARENA METODE INI SANGAT PAS / SESUAI DENGAN POSISI PENELITI SEBAGAI INSTRUMEN PENELITIAN YANG UTAMA YANG MAMPU MELIHAT , MENDENGAR , BERBICARA , MEMBACA DSB SECARA CERMAT. OLEH KARENA ITU LEWAT UPAYA OBSERVASI DAN WAWANCARA MANUSIA MAMPU MENGGALI DATA DARI BERBAGAI SUMBER DATA TERMASUK ‘ NONVERBAL CUES ‘  DAN MENGINTERPRETASIKANNYA DENGAN CARA  ‘ INADVERTENT UNOBTRUSIVE MEASURES ‘.
5.5.MENETAPKAN SAMPEL BERTUJUAN  ( PURPOSIVE SAMPLING ). PENELITIAN KUALITATIF YANG SANGAT DEKAT DENGAN KONTEKS MAKA SAMPEL ‘ PURPOSIF ‘ ADALAH AYNG PALING TEPAT KARENA SAMPEL DIAMBIL UNTUK MEMPEROLEH DATA YANG KAYA ( TIDAK DITETAPKAN SECARA APRIORI , TETAPI TERUS BERGULIR SESUAI DENGAN DATA YANG DIBUTUHKAN  =  SATURATED DATA / INFORMATION REDUNDANCY ) ;
5.6.MENETAPKAN ANALISIS DATA SECARA INDUKTIF , YAKNI SUATU PROSES MEMBERI MAKNA ATAS DATA LAPANGAN ( A PROCESS FOR ‘ MAKING SENSE ‘ OF FIELD DATA ). INI MIRIP DENGAN ‘CONTENT ANALYSIS’ YAKNI SUATU PROSES YANG DIARAHKAN UNTUK MEMBEDAH INFORMASI YANG ‘ TERSEMBUNYI ‘                    ( EMBEDDED INFORMATION ) DAN MENJADIKANNYA EKSPLISIT ;
5.7.MENYUSUN TEORI MENDASAR ( GROUNDED THEORY  ) YAKNI TEORI YANG DISUSUN BERDASARKAN DATA YANG DIPEROLEH DI KANCAH UNTUK MENGGAMBARKAN REALITAS GANDA                     (  MULTIPLE REALITIES ) , KARENA ‘ KETERALIHAN HASIL PENELITIAN ‘ ( TRANSFERABILITY ) SANGAT TERGANTUNG PADA FAKTOR-FAKTOR YANG ADA DI LOKALNYA ;
5.8.DESAIN PENELITIAN DISUSUN SECARA SEMENTARA ( EMEGENT DESIGN ) KARENA : 1) MAKNA ATAS FENOMENA YANG DIKAJI ITU LEBIH BANYAK DI TENTUKAN OLEH KONTEKS ; 2) EKSISTENSI REALITAS YANG BERSIFAT GANDA TIDAK MUNGKIN DITELAAH LEWAT SATU ( YANG PASTI ) DESAIN PENELITIAN SAJA ; 3) APA YANG AKAN DIKAJI PADA SATU SITUS SENANTIASA TERGANTUNG PADA INTERAKSI ANTARA PENELITI DAN OBYEK YANG DITELITI DAN KONTEKSNYA DAN INTERAKSI ITU SANGAT SULIT DIRAMAL ; DAN 4) HAKEKAT PEMBERIAN MAKNA SECARA BERSAMA                 ( MUTUAL SHAPINGS ) HANYA DAPAT DILAKUKAN SETELAH FENOMENANYA DISAKSIKAN BERSAMA ( INTERSUBJECTIVE MEANING ) ;
5.9.HASIL PENELITIAN DINEGOSIASIKAN ( NEGOTIATED OUT COMES ) , ARTINYA BAIK FAKTA MAUPUN INTERPRESTASI HASIL DALAM BENTUK ‘ LAPORAN KHUSUS ‘ ITU HARUS DAPAT DITELITI KEBENARANNYA BAIK OLEH INFORMAN SEBAGAI SUMBER INFORMASI MAUPUN ORANG LAIN YANG MENYUKAINYA. HAL INI DIMAKSUDKAN UNTUK LEBIH MENGEDEPANKAN SEMANGAT ‘EMIC‘ DARI PADA ‘ETIC’ KARENA PENELITIAN KUALITATIF ITU SARAT DENGAN NILAI ( VALUE BOUNDED ) MAKA  THE VALUES OF THE RESPONDENTS MUST BE CONSIDERED   DAN INI SANGAT SESUAI DENGAN SEMANGAT UNTUK MEMPEROLEH ‘TRUSTWORTHINESS’;
5.10.LAPORAN HASIL PENELITIAN DIRUPAKAN DALAM BENTUK KAJIAN KHUSUS ( THE CASE REPORT ) YANG SANGAT SESUAI DENGAN PARADIGMA NATURALISTIK, YAKNI SUATU PENELAAHAN YANG SANGAT INTENSIF DAN MENDALAM ATAS SUATU FAKTA, ISU, ATAU MUNGKIN PERISTIWA YANG TERJADI PADA SUATU SETTING  SEPANJANG WAKTU. TUJUAN UTAMANYA ADALAH :  1) MEMBERIKAN GAMBARAN MENDALAM  ( THICK DESCRIPTION ) ATAS SUATU FENOMENA TERTENTU DALAM SITUASI TERTENTU ( A POTRAYAL OF A SITUATION ) ;   2) KAJIAN KASUS MEMENUHI 3 AKSIOMA MENDASAR DALAM PARADIGMA NATURALISTIK  ;   3) SEBAGAI SARANA KOMUNIKASI YANG IDEAL DENGAN PENGGUNA HASIL PENELITIAN ;

       5.11. SESUAI DENGAN BUTIR 5.9 DI ATAS MAKA HASIL PENELITIAN KUALITATIF AGAK SUKAR DITETAPKAN SECARA SPESIFIK SEPERTI MISALNYA DENGAN MENARIK GENERALISASI           ( SE-PERTI PADA PENELITIAN KUANTITATIF ) KARENA SELAIN HASILNYA BERSIFAT TENTATIF IA JUGA BERSIFAT SUBSTANTIF & SUBYEKTIF  ( IDIOGRAFIS ) --- YAITU MENGGAMBARKAN SECARA MENDALAM ‘TACIT KNOWLEDGE ‘ DARI SUBYEK PENELITIANNYA SECARA ALAMI. GENERALISASI HASIL PENELITIANNYA HANYA DIMUNGKINKAN BILA HASIL UJI TERHADAP KEABSAHAN DATANYA YANG MELIPUTI CREDIBILITY, TRANSFERABILITY, DEPENDABILITY DAN CONFIRMABILITY  MENUNJUKAN TINGKAT KEPERCAYAAN HASIL YANG SANGAT TINGGI. INILAH YANG KEMUDIAN OLEH LINCOLN DAN GUBA DISEBUT  DENGAN ISTILAH TRUSTWORTHINESS.
                  APLIKASI HASIL PENELITIAN KUALITATIF BERSIFAT SEMENTARA ATAU TENTATTIF ( TIDAK BERTUJUAN UNTUK MENCARI GENERALISASI ) . HASIL PENELITIAN KUALITATIF YANG BERSIFAT  IDIOGRAFIS ( TIDAK NOMOTETIS ) SANGAT TERIKAT OLEH NILAI-NILAI  KELOKALAN YANG SUBSTANTIF DAN SUBYEKTIF .  PENERAPANNYA YANG BERSIFAT AGAK‘GENERAL’ HANYA BISA DILAKUKAN PADA RUANG & WAKTU YANG SAMA ATAU PALING TIDAK ADA KEMIRIPAN






                  PANDANGAN W.L. NEWMAN DALAM  SOCIAL RESEARCH METHODS’ ,1994 , TENTANG   6 KARAKTERISTIK UTAMA PENELITIAN KUALITATIF :

1. MENGUTAMAKAN KONTEKS SOSIAL

    MAKNA SUATU TINDAKAN SOSIAL SANGAT TERGANTUNG SE-KALI PADA KONTEKS DI MANA TINDAKAN SOSIAL ITU TERJADI. BILA SUATU PERISTIWA ATAU TINDAKAN SOSIAL ITU DIPISAH-KAN DARI KONTEKS SOSIALNYA ATAU DIABAIKANNYA MAKA MAKNA DAN ARTI SOSIALNYA MENJADI RUSAK, HILANG ATAU BERBEDA ;                

2. PENDEKATAN STUDI KASUS

   PENELITI MENGUMPULKAN SEJUMLAH BESAR INFORMASI HANYA PADA SUATU ATAU BEBERAPA ( SEJUMLAH KECIL ) KASUS TETAPI IA MASUK KE DALAM DAN MENDETAIL AGAR DAPAT DIKETEMUKAN DAN DIGAMBARKAN POLA-POLA DALAM KEHIDUPAN, TINDAKAN, SIKAP, PERASAAN, KATA-KATA, DAN KALIMAT DARI ORANG-ORANG DI DALAM KONTEKS SOSIALNYA SECARA UTUH DAN MENYELURUH ;

3. MENGUTAMAKAN INTEGRITAS PENELITI                 

                     HUBUNGAN YANG DEKAT ANTARA PENELITI DENGAN SUBYEK PENELITIANNYA MENGHARUSKAN PENELITI KUALITATIF MEN-JAGA INTEGRITAS DIRINYA AGAR HASIL PENELITIANNYA TE-TAP OBYEKTIF DAN TIDAK BIAS ;

                  4. MEMBANGUN TEORI DARI DATA

    PENELITIAN KUALITATIF TIDAK BERANGKAT DARI TEORI ATAU HIPOTESIS, TETAPI DARI MASALAH PENELITIAN ( RE-SEARCH QUESTIONS  )  . KARENA PENELITIAN INI TIDAK BERSIFAT DEDUKTIF MELAINKAN INDUKTIF  MAKA TEORI DIBANGUN DARI DATA ATAU MENGGALI DATA DARI DASARNYA ( GROUNDED RESEARCH  );

5. MENCERMATI PROSES DAN SEKUEN

PENELITI KUALITATIF DENGAN CERMAT SELALU MENGAMATI PROSES DAN URUTAN PERISTIWA DARI KASUS YANG DIPELAJA-RINYA SETIAP SAAT AGAR DAPAT MELIHAT PERKEMBANGAN YANG TERJADI PADA KASUS TERSEBUT TERUS-MENERUS. HAL INI MEMBUTUHKAN WAKTU YANG RELATIF CUKUP LAMA; DAN
6. INTERPRETASI DATANYA KAYA DAN MENDALAM

    INTERPRETASI DATA DALAM PENELITIAN KUALITATIF DILAKUKAN MULAI DARI :
a)                 THE FIRST ORDER  INTERPRETATION :  YAITU MENGINTERPRETASIKAN DATA DENGAN CARA MENEMUKAN BAGAIMANAKAH ORANG-ORANG YANG SEDANG DITELITINYA ITU MELIHAT DAN MEMBERI MAKNA ATAS DUNIA ( WORLD VIEW  ) MEREKA SENDIRI ;
b)                 THE SECOND ORDER INTERPRETATION :  YAITU PENELITI KEMUDIAN MEREKONSTRUKSI MAKNA     ( MEANING )   TADI DALAM KAITANNYA DENGAN MAKNA-MAKNA YANG LAIN SESUAI DENGAN PERKEMBANGAN KONTEKSNYA, JADI IA MENEM-PATKAN TINDAKAN ORANG-ORANG YANG DITELITINYA KE DALAM  STREAM OF BEHAVIOR ;
c)                 THE THIRD ORDER INTERPRETATION :  YAITU PENELITI BERGERAK LEBIH JAUH DENGAN MENGHUBUNGKAN  THE SECOND INTERPRETATION  DENGAN TEORI UMUM ( GENERAL THEORY ).

KEENAM KARAKTERISTIK PENELITIAN KUALITATIF TERSEBUT DI ATAS JELAS SEKALI BERBEDA DENGAN PENELITIAN KUANTITATIF. PERBEDAAN KARAKTERISTIK KEDUA JENIS PENELITIAN INI  BAIK PADA ASPEK ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGINYA DAPAT DIKAJI LEWAT PANDANGAN BERBAGAI PAKAR PENELITIAN UTAMA-NYA SEBAGAIMANA  DIGAGAS OLEH LINCOLN DAN GUBA ( 1985 ) YANG TELAH DIKEMUKAKAN PADA PAPARAN SEBELUMNYA.
















#  MELAKSANAKAN PENELITIAN KUALITATIF DENGAN MENGGUNA-KAN  PARADIGMA NATURALISTIK  SEBAGAIMANA DIGAGAS OLEH LINCOLN DAN GUBA   (1985 ) : SEBUAH GARIS BESAR #

LANGKAH  I :


            TETAPKAN MASALAH PENELITIAN ( PROBLEMA NYATA, EVALUASI TENTANG SESUATU, ALTERNATIF KEBIJAKAN DST. );
            SUSUN  TUJUAN PENELITIAN SESUAI DENGAN MASALAH YANG HENDAK DIANGKAT.



LANGKAH II :

2.1    PILIH DAN TETAPKAN SETTING PENELITIAN YANG ALAMIAH;
2.2    PERSYARATAN PENETAPAN SETTING YANG ALAMI  HARUS BENAR-BENAR MENEKANKAN PADA  FENOMENA YANG DIKAJI , APAPUN BENTUKNYA  ( APAKAH FISIK / BIOLOGIS, SOSIAL, KEJIWAAN, SIKAP, PERILAKU, PERSEPSI DST. ) HARUS BERADA DALAM KONTEKSNYA YANG ALAMI ATAU ASLI;
2.3    KONSTRUKSIKAN REALITAS  YANG HENDAK DIKAJI  KETIKA IA BERADA DI SITUSNYA ATAU SEDANG TERJADI ( DIALAMINYA ) DENGAN MEMPERHATIKAN ASPEK KONTEKS DAN WAKTU;
2.4    LAKSANAKAN PENELITIAN  IN SITU   BUKAN  IN VITRO !!!

LANGKAH III :

            TETAPKAN INSTRUMEN PENELITIANNYA DAN JANGAN LUPA BAHWA  PENELITI  ITU SENDIRI ADALAH INSTRUMEN PENELITIAN YANG PALING PENTING;
            KARENA PENELITIAN HARUS DILAKUKAN PADA LATAR YANG ALAMI , SERINGKALI SEGALA SESUATU TERJADI SECARA TIDAK TERDUGA ATAU TIDAK TERBATAS ( INDETERMINATE ) MAKA YAKINKAN DIRI BAHWA PENELITI ADALAH INSTRUMEN YANG  UTAMA KARENA IA MAMPU MENGATASI SITUASI YANG TIDAK TERDUGA / TAK TERBATAS TERSEBUT;
            SETIAP PENELITI HARUS MEMPERSIAPKAN DIRI AGAR MEMILIKI KEMAMPUAN UNTUK :
                -  BERINTERAKSI DENGAN LINGKUNGANNYA;
                -  BERADAPTASI DENGAN SITUASI DAN KONDISI LINGKUNGAN PENELITIANNYA;
                -  MENANGKAP SEGALA SESUATU SECARA UNTUH DAN MENYELU-RUH;
               -   MEMPROSES DATA DENGAN CEPAT;
               -  MERINGKAS DATA , MEMBUAT KLASIFIKASI DAN KOREKSI DA-TA; DAN
               -  MENGEKSPLORASI RESPON-RESPON YANG TIDAK LAZIM ( UNIK ) GUNA MEMPEROLEH PEMAHAMAN YANG LEBIH MENDALAM.

LANGKAH IV :

       4.1  KUASI PENERAPAN METODE PENELITIAN KUALITATIF – NATURAL-ISTIK;
       4.2  PERGUNAKAN KEMAMPUAN METODE KUALITATIF TERSEBUT UNTUK MENGUNGKAP PENGETAHUAN YANG TIDAK TERKATAKAN    (  TACIT  KNOWLEDGE );
4.3   HASIL DARI  ‘ TO EXPLICATE HIDDEN AGENDA ‘ TADI KEMUDIAN   INTERPRETASIKAN, BERI MAKNA, DAN KOMUNIKASIN DENGAN ORANG LAIN SUPAYA BERUBAH MENJADI     EXPLICIT KNOWLEDGE’.

LANGKAH V :

5.1  TETAPKAN SAMPEL PENELITIANNYA DENGAN MEMPERGUNAKAN TEKNIK SAMPEL BERTUJUAN (  PURPOSIVE SAMPLING ) ;
5.2  KUMPULKAN DATA / INFORMASI SEBANYAK-BANYAKNYA DARI  SUMBERDATA YANG HANDAL (  SNOWBALL SAMPLE )  SESUAI DENGAN  KONTEKSNYA DAN YANG PALING COCOK UNTUK MENYUSUN TEORI;
5.3  TEMUKAN DATA YANG SARAT DENGAN NILAI TEORI ( THEORY LADEN DATA ).

       LANGKAH VI :

6.1    ANALISIS DATA SECARA INDUKTIF;
6.2    SUSUN HIPOTESA KERJA LOKAL ( LOCAL WORKING HYPOTHESES ) UNTUK DIUJI SIGNIFIKANSINYA;
6.3    KALAU HIPOTESA KERJA LOKALNYA BELUM TERBUKTI, LANJUT-KAN MENGUMPULKAN DATA SAMPAI DATANYA TERSATURASI        ( CONSTANT COMPARISON );
6.4    LANJUTKAN PROSES ANALISIS DENGAN MEMBEDAH DAN MENG-UNGKAP DATA / INFORMASI SEHINGGA MENJADIKANNYA EKSPLI-IT  LEWAT  KEGIATAN :
-  UNITIZING  :  PROSES MENTRANSFORMASIKAN DAN MENGAGRE-ASIKAN  DATA MENTAH  KE DALAM UNIT-UNIT SEHINGGA DA-PAT MEMBERIKAN DESKRIPSI YANG TEPAT TENTANG KARAKTERISTIK  FENOMENA YANG DIKAJI ;
              - CATEGORIZING  :  PROSES MENGORGANISASIKAN DATA KE DALAM  KATEGORI-KATEGORI  YANG MEMBENTUK INFORMASI DESKRIPTIF DAN INFERENSIAL TENTANG KONTEKS ATAU LATAR DARI MANA DATA TERSEBUT BERASAL.

       LANGKAH VII :

7.1    SUSUN TEORI YANG BERSUMBER DARI DATA;
7.2    TETAPKAN KONSEP “ FIT  DAN  WORK  SEBAGAI KRITERIA UNTUK MENILAI APAKAH SUATU TEORI DAPAT DIKATEGORIKAN KE DALAM TEORI MENDASAR ATAU TIDAK ( GROUNDED THEORY );
7.3    KONSEP “FIT” BERARTI  BAHWA KATEGORI-KATEGORI YANG DIHASILKAN DARI PROSES ANALISIS DATA INDUKTIF HARUS SELALU SIAP PAKAI DAN BERINDIKASI PADA DATA YANG SEDANG DIKAJINYA ,  DAN  KONSEP “WORK”  BERARTI BAHWA KATEGORI-KATEGORI ITU HARUS MEMPUNYAI MAKNA RELEVANSI YANG TINGGI DAN DAPAT MENJELASKAN FENOMENA YANG SEDANG DIKAJI.

LANGKAH IX :

9.1  SUSUN DESAIN PENELITIAN SESUAI DENGAN KONDISI LAPANGAN ATAU KONTEKS BERDASARKAN HASIL ANALISIS DATA YANG DI-LAKUKAN SECARA TERUS-MENERUS;
9.2  DESAIN PENELITIAN BISA MUNCUL TIBA-TIBA ( EMERGENT )  KARENA : a) ‘MAKNA’ DITENTUKAN OLEH KONTEKS ; b). KEBERADAAN REALITAS YANG BERSIFAT GANDA AKAN MEMBA-TASI PENGEMBANGAN SUATU DESAIN YANG SEMATA-MATA DIDASARKAN PADA KONSTRUKSI PENELITI; c) APA YANG DIKAJI DI SUATU SITUS SENANTIASA TERGANTUNG PADA ADANYA INTERAKSI ANTARA PENELITI DAN KONTEKS DAN INTERAKSI TERSEBUT TIDAK SELALU DAPAT DIRAMAL SECARA PENUH; d) HA-KEKAT PRODUK DARI INTERAKSI ITU TIDAK DAPAT DIKENALI HINGGA BENAR-BENAR TERWUJUD DAN DAPAT DISAKSIKAN LANGSUNG;
9.3  JANGAN BERANGKAT KE LAPANGAN DENGAN SEPENUHNYA TANGAN KOSONG     ( EMPTY HANDED ) DAN TIDAK PULA HAMPA TEORI / KONSEP ( EMPTY HEADED ) , TETAPI PENELITI KUALITATIF HARUS TETAP TERBUKA MATA-HATINYA ( OPEN HEARTED ) MENCARI, MENEMUKAN DAN MENGEMBANGKAN ‘TACIT KNOW-LEDGE’  TERUS-MENERUS SEHINGGA SEMAKIN TERFOKUS, UNSUR-UNSUR PENTING/POKOK MULAI NAMPAK, PERSEPSI TERUS BERKEMBANG, DAN TEORI MENDASAR DARI DATA BISA DIPE-ROLEH;
9.4  DESAIN SEMENTARA TERUS DIPUTAR ( ITERATED & RECURSIVE ) --  TETAPKAN SAMPEL BERTUJUAN – ANALISIS DATANYA SECARA INDUKTIF  --     KEMBANGKAN TEORI MENDASAR DARI DATA.

       LANGKAH X : 

       10.1 PROSES ITERASI TERUS DILANJUTKAN  SAMPAI DATANYA TERSATURASI;
       10.2  TEMUKAN FAKTA, MAKNA, DAN INTERPRETASI DARI FENOMENA ATAU OBYEK YANG DITELITINYA;
       10.3  NEGOSIASIKAN FAKTA, MAKNA, DAN INTERPRETASI DATA TADI DENGAN INFORMAN ( SEBAGAI SUMBER INFORMASI ) UNTUK MENCERMATI APAKAH FAKTA, MAKNA DAN INTERPRETASI TADI BENAR ATAU BISA DITERIMA OLEH SUBYEK PENELITIAN;
 10.4 SELAIN ITU, ORANG LAIN PUN BISA MEMBERIKAN MASUKAN TERHADAP FAKTA-FAKTA TADI  AGAR REKONSTRUKSI MAKNA YANG TELAH DIBUAT PENELITI SESUAI DENGAN SEMANGAT         EMIC   SI SUMBER DATA BUKANNYA PADA SEMANGAT ‘ ETIC ‘ –NYA  SI PENELITI.

LANGKAH XI :

11.1          MENULIS HASIL PENELITIAN KE DALAM BENTUK LAPORAN KASUS ( CASE REPORT  )  YANG BERISI SAJIAN ATAU DESKRIPSI TEBAL     ( THICK DESCRIPTION  ) ATAU URAIAN MENDALAM / KENTAL TENTANG  ‘REALITAS SIMBOLIK’  DARI FENOMENA YANG DIKAJINYA  YANG MEMPUNYAI MAKNA ATAU INTERPRETASI IDIOGRAFIS YANG UTUH DAN HOLISTIK;
11.2          SAJIKAN TEMUAN-TEMUAN PENELITIAN YANG BERISI PERNYA-TAAN-PERNYATAAN IDIOGRAFIS  YANG APLIKASINYA UTAMA-NYA PADA KONTEKS DI MANA PENELITIAN DILAKUKAN;
11.3          ANGKAT TEMUAN-TEMUAN IDIOGRAFIS TERSEBUT KE KONTEKS YANG LEBIH LUAS ( MEMPUNYAI NILAI GENERALISASI = TRANS-FERABILITAS )  ATAU YANG MEMILIKI TINGKAT KREDIBILITAS YANG TINGGI ( TRUSTWORTHINESS  ) YANG TERUJI LEWAT UJI KEABSAHAN HASIL PENELITIAN : a). CREDIBILITY (  VALIDITAS INTERNAL ) ; b). TRANSFERABILITY ( VALIDITAS EKSTERNAL ); c) DEPENDABILITY (  RELIABILITAS ); DAN d). CONFIRMABILITY            (  OBYEKTIVITAS ).
11.4          CREDIBILITY  :  BISA DIPEROLEH LEWAT  KETEKUNAN PENGAMA-TAN, PERPANJANGAN PARTISIPASI, MELAKUKAN TRIANGGULASI, PENGECEKAN DATA PADA ANGGOTA PENELITI, MEMPERBANYAK REFERENSI, DAN MENGKAJI KASUS NEGATIF;
TRANSFERABILITY :  DIPEROLEH LEWAT URAIAN YANG CERMAT, RINCI, TEBAL ATAU MENDALAM DAN KESAMAAN ANTARA KONTEKS PENGIRIM DAN PENERIMA;
DEPENDABILITY  :   DIPEROLEH LEWAT AUDIT ATAU PEMERIKSAAN YANG CERMAT TERHADAP SELURUH KOMPONEN DAN PROSES PENELITIAN SERTA HASIL PENELITIANNYA;
CONFIRMABILITY :  DIPEROLEH LEWAT AUDIT ATAU PEMERIKSA-AN YANG CERMAT TERHADAP SELURUH KOMPONEN DAN PROSES PENELITIAN SERTA HASIL PENELITIANNYA.
  

      GENERALISASI

    1. Generalisasi Ilmiah ( Scientific Generalization )
-          dibangun berdasarkan  konsep ‘populasi ‘ dan ‘sampel ‘;
-          bersifat nomotetik : berdasarkan hukum , dalil, aksioma, postulat, prinsip tertentu;
-          bersifat : rasionalistik, logis, proposisional, logis – mencari kebenaran sensual dan logikal.

    1. Generalisasi Alamiah ( Naturalistic Generalization )
-          dibangun berdasarkan ‘pengetahuan tak terkatakan’ ( tacit konwledge) yaitu : kognisi, abstraksi, komprehensi pengalaman manusia dari hasil interaksinya dengan yang lainnya;
-          bersifat intuitif, empirik;
-          bersifat idiografik : berdasarkan pada kasus khusus ( individual ).

Tacit Knowledge  :  pengetahuan tersirat ( tak terkatakan ) yang diperoleh dari pengalaman manusia berinteraksi dengan obyek dan peristiwa ;
Explicit Knowledge :  pengetahuan obyektif yang diperoleh lewat penalaran, logika dan uji teori

·         Ilmu-Ilmu Nomotetik :
-          mendasarkan pada metode ilmu alam ( natural sciences )
-          mencari keteraturan, dalil, hukum, prinsip, postulat;
-          interpretasi nomotetik – didasarkan pada hukum, dalil, aksioma, dan prinsip yang ajeg dan teratur.

·         Ilmu-Ilmu Idiografik :
-          mendasarkan pada ilmu humaniora ( social sciences );
-          mencari spesifikasi suatu fenomena / gejala ;        
-          pemberian pemaknaan ( interpretasi ) berdasarkan pada pengalaman individu tertentu dalam konteks khusus.








       KONSEP KEBENARAN ( TRUTH ) MENURUT J.FORD ( 1975 ) :

1.      Empirical Truth  :
Kebenaran yang diperoleh lewat kemampuan inderawi manusia untuk menangkap fenomena empirik
2.      Logical Truth :
Sesuatu dinilai benar bila memiliki konsistensi logis dan matematis dengan sesuatu yang telah diketahui kebenarannya



3.      Ethical Truth : 
Sesuatu dinilai benar bila bersesuaian atau memiliki konformitas dengan nilai-nilai moral / etika
4.      Metaphysical Truth  :
Kebenaran yang diperoleh lewat keimanan dan keyakinan di luar kemampuan inderawi manusia.

·         Konsep kebenaran no.1 dan 2  identik dengan proses berfikir deduktif              ( outsider perspective ) untuk memperoleh  explicit knowledge  yang bersifat nomotetik  lewat penelitian kuantitatif;
·         Konsep kebenaran no.3 dan 4 identik dengan proses berfikir induktif               (    insider perspective )  untuk memperoleh  tacit knowledge  yang bersifat idiografik lewat penelitian kualitatif.


            NAMA-NAMA LAIN UNTUK MENYEBUT JENIS PENELITIAN KUALITATIF  :

1.      INTERPRETIVE RESEARCH
2.      VERSTEHEN
3.      HERMENEUTICS
4.      ETHNOMETHODOLOGY
5.      ETHNOGRAPHY
6.      COGNITIVE RESEARCH
7.      FIELD RESEARCH
8.      IDEALIST RESEARCH
9.      SUBJECTIVIST  
10.  PHENOMENOLOGICAL RESEARCH
11.  SYMBOLIC INTERACTIONISM
12.  NATURALISTIC
13.  CONSTRUCTIVISM
14.  GROUNDED RESEARCH



·         VERSTEHEN  :

ADALAH PROSES PENELITIAN YANG MENGGUNAKAN POLA FIKIR DIVERGENSI, KREATIF, INOVATIF UNTUK MEMPEROLEH PEMAKNAAN ( PEMAHAMAN ) YANG MENDASAR DAN MENDALAM  YANG LEBIH JAUH DARI SEKEDAR HASIL UJI SIGNI-FIKANSI.

·         NATURALISM :

ADALAH PENELITIAN MENDASAR UNTUK MEMPEROLEH PEMAKNAAN FENOMENA YANG DIKAJI SESUAI DENGAN SETTINGNYA YANG ALAMI.

GOING NATIVE ‘ :
-          NOT EMPTY HEADED
-          EMPTY HANDED
-          OPEN MINDED
-          OPEN HEARTED

MENURUT BLOOM  , ADA TIGA (3) TINGKAT PEMAHAMAN  , YAKNI :

1.      PEMAHAMAN TRANSLASI / TERJEMAHAN  ---  YAITU PEMAHAMAN YANG TERBATAS PADA MENGUBAH SIMBOL DARI PERHI-TUNGAN STATISTIK KE VERBAL , ATAU DARI BAHASA YANG SATU KE BAHASA YANG LAIN ;
2.      PEMAHAMAN INTERPRETASI  ---  YAITU PEMAHAMAN YANG MELIPUTI SESUATU  YANG TERSURAT DAN TERSIRAT ;
3.      PEMAHAMAN EKSTRAPOLASI  --- YAITU PEMAHAMAN  YANG MENGHUBUNGKAN ANTARA SESUATU YANG TERSURAT DAN TERSIRAT DENGAN SESUATU DI LUARNYA.



*    TEORI , KONSEP DAN HIPOTESIS (  SELLTIZ )

THEORY  IS A SET OF CONCEPTS AND THE INTERRELATIONSHIPS THAT ARE ASSUMED TO EXIST AMONG THOSE CONCEPTS;

CONCEPTS ARE TERMS THAT REFER TO THE CHARACTERISTICS OF EVENTS, SITUATIONS, GROUPS, AND INDIVIDUALS THAT WE ARE STUDYING IN THE SOCIAL SCIENCES;

HYPOTHESIS  ARE THE CONSEQUENCES OF OF OUR THEORETICAL ASSUMPTIONS  ; OR  THE STATEMENTS THAT WE USUALLY SUBMIT TO ACTUAL TESTING.

·         CONCEPTS, PROPOSITIONS, HYPOTHESIS, THEORY ( E.BABBIE )

              CONCEPTS : - THE BASIC BUILDING BLOCKS OF THEORY;
 -THEY ARE ABSTRACT ELEMENTS REPRESENTING CLASSES OF PHENOMENA WITHIN THE FIELD OF STUDY

PROPOSITIONS : ARE CONCLUSIONS DRAWN ABOUT THE RELATIONSHIPS AMONG CONCEPTS BASED ON THE LOGICAL INTERRELATIONSHIPS AMONG THE AXIOMS

HYPOTHESIS : -  AN EXPECTATION ABOUT THE WAY THINGS OUGHT TO BE IN THE WORLD IF THE THEORETICAL EXPECTATION ARE CORRECT;
-    A STATEMENT OF SOMETHING THAT OUGHT TO BE OBSERVED IN THE REAL WORLD IF THE THEORY IS CORRECT.

              THEORY  :  A SYSTEMATIC EXPLANATION FOR THE OBSERVED FACTS AND LAWS THAT RELATE TO A PARTICULAR ASPECT OF LIFE.


           
*  KONSEP, VARIABEL, PROPOSISI, HIPOTESIS, DAN TEORI          


KONSEP : GENERALISASI DARI SEKELOMPOK FENOMENA TERTENTU SEHINGGA DAPAT DIPAKAI UNTUK MENGGAMBARKAN FENOMENA YANG SAMA .  CONTOH : NEGARA, BISNIS, UNIVERSITAS, KEPEMIMPINAN, KONSUMEN, MAHASISWA DST.

VARIABEL  :    KONSEP YANG MEMPUNYAI VARIASI NILAI.
                           CONTOH :  KONSEP NEGARA , VARIABELNYA ADALAH LETAK, LUAS, PENDUDUK, BAHASA, TIPE REJIM DST.

PROPOSISI :  PERNYATAAN TENTANG SIFAT REALITA YANG DAPAT DIUJI KEBENARANNYA.  CONTOHNYA :  KEPEMIMPI-NAN OTOKRATIK ADALAH PROSES KEPEMIMPINAN YANG BERPUSAT PADA ELIT.

HIPOTESIS :  KESIMPULAN SEMENTARA ATAU PROPOSISI TENTATIF TENTANG HUBUNGAN ANTARA DUA VARIABEL ATAU LEBIH.    CONTOHNYA :  SEMAKIN POSITIF PERSEPSI BAWAHAN TERHADAP PEMIMPINANNYA  MAKA SEMAKIN KUAT PENGARUH PEMIMPIN KEPADA BAWAHANNYA.

TEORI       :    RANGKAIAN YANG LOGIS DARI SATU PROPOSISI ATAU LEBIH .  CONTOH :  TEORI MOTIVASI  ‘LIMA JENJANG KEBUTUHAN MANUSIA’.



MEMBANGUN TEORI BERDASAR DATA




 








II.                 K O N S E P
Misalnya :  Perilaku Kekuasaan Pemimpin





·         Perilaku Kekuasaan Kontinuum & Resiprokal , memperhatikan :

1)      Syntagmatic Dimension --  patterning in time and space
2)      Paradigmatic Dimension  --  continuity producing , virtual order of elements



·         PROSEDUR  ANALISIS DATA PENELITIAN KUALITATIF

-          ADALAH BAGIAN YANG PALING SULIT DILAKUKAN;
-          ANALISIS BERSIFAT LENTUR DAN TERBUKA;
-          DATA BANYAK BERUPA KATA-KATA, UNGKAPAN, KALIMAT, GAMBAR DSB;
-          ANALISIS DILAKUKAN TERUS-MENERUS SEJAK AWAL PENELITIAN LAPANGAN  S/D SELESAI PENELITIAN;
-          PROSES MENGERJAKAN DATA :  DIATUR  -- DIKE-LOMPOKKAN KE DALAM UNIT-UNIT  --  DISINTESAKAN – DIKETEMUKAN POLA  -- DAN DISAJIKAN KEPADA ORANG LAIN.


(1)   MODEL ANALISIS  MILES DAN HUBERMAN , 1992.

1.1    REDUKSI DATA

-          PROSES MEMILIH, MENFOKUSKAN , MENYEDERHANAKAN , DAN MENGABSTRASIKAN DATA DARI PELBAGAI SUMBER DATA : CATATAN LAPANGAN, DOKUMEN, ARSIP DST ;
-          PROSES MEMPERTEGAS, MEMPERPENDEK, MEMBUANG YANG TIDAK PERLU, MENENTUKAN FOKUS DAN MENGATUR DATA SEHINGGA KESIMPULAN BISA DIBUAT.

1.2    PENYAJIAN DATA

-          PROSES MERAKIT DATA DAN MENYAJIKANNYA DENGAN BAIK SUPAYA LEBIH MUDAH DIFAHAMI;
-          PENYAJIAN BISA BERUPA MATRIKS, GAMBAR/SKEMA, JARINGAN-KERJA, TABEL DST.







1.3    MENARIK KESIMPULAN / VERIFIKASI

-          PROSES PENARIKAN KESIMPULAN AWAL MASIH BELUM KUAT, TERBUKA DAN SKEPTIS;
-          KESIMPULAN AKHIR DILAKUKAN SETELAH PENGUM-PULAN DATA BERAKHIR;
-          VERIFIKASI DIPEROLEH LEWAT PROSES  NEGOSIASI / KONSENSUS ANTAR SUBYEK , BERDISKUSI DENGAN SEJAWAT, MEMERIKSA DATA ANTAR ANGGOTA DST.  










 




































(2)   MODEL MARSHALL & ROSMAN , 1987  

2.1    MENGORGANISASIKAN DATA

-          MEMBACA DATA BERULANG-ULANG SHG. PENELITI INTIM DAN FAMILIAR DENGAN DATA;
-          MEMPERHATIKAN DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH DAN TELITI TENTANG BAGAIMANA DATA AKAN DIREDUKSI;
-          DIPERLUKAN BAGAN DAN SKEMA TETAPI JANGAN TERLAMPAU MEKANISTIK KARENA AKAN MEHILANGKAN KELUWESAN DESAIN.




2.2    MENYUSUN KATEGORI, TEMA DAN POLA

-          MENCATAT REGULARITAS HAL-HAL YANG TERJADI PADA SETTING DAN ORANG-ORANG YANG DITELITI;
-          BEGITU MAKNA MUNCUL , PENELITI MENCARI KATEGORI-KATEGORI YANG SECARA INTERNAL KONSISTEN TETAPI BERBEDA  SATU SAMA LAIN.



2.3    MENGUJI HIPOTESIS YANG MUNCUL

-          BEGITU KATEGORI, TEMA DAN POLA NAMPAK DALAM DATA, PENELITI SEGERA MEMULAI PROSES MENILAI VALIDITAS HIPOTESA YANG BERKEMBANG DAN MENGUJINYA DENGAN DATA YANG ADA;
-          KEGIATAN TERSEBUT MENCAKUP : MENCERMATI DATA, MENANTANG HIPOTESIS DAN MENEMUKAN BUKTI NEGATIF ; DAN
-          MENYATU-PADUKANNYA KE DALAM SEBUAH KONSTRUK YANG LEBIH BESAR.

2.4    MENEMUKAN / MENCARI EKSPLANASI ALTERNATIF

-          BEGITU KATEGORI, TEMA DAN POLA MUNCUL DI DATA, PENELITI SELALU DITANTANG UNTUK MENCARI ALTERNATIF PENJELASAN YANG LAIN, SEHINGGA DAPAT DIPEROLEH PENJELASAN YANG PALING VALID BAGI SEMUA.



2.5    MENULIS LAPORAN
  
-          DISINI PENELITI TERLIBAT DALAM KEGIATAN MEMBUAT INTERPRETASI  YAITU MEMBENTUK DAN MEMBERI MAKNA PADA SEJUMLAH BESAR DATA  SECARA  TEPAT DAN CERMAT

·         PEMBERIAN MAKNA SECARA MENDALAM / DESKRIPSI TEBAL  (  THICK DESCRIPTION  )  (  C.GEERTZ )


MENULIS LAPORAN HASIL PENELITIAN ( BOGDAN & TAYLOR )

1.      PURELY DESCRIPTIVE LIFE HISTORY

2.      PARTICIPANTS’ PERSPECTIVE OF THEIR WORLDVIEWS

3.      RELATIONSHIPS OF THE REALITY OF SOCIAL PHENOMENA TO THEORY

4.      FULLY THEORETICAL

5.      TO BUILD THEORY FROM DATA










 FILSAFAT   ILMU 



Oleh,

 Dr. WIDI HARSONO










PROGRAM PASCASARJANA
STIB BANYUWANGI
KONSENTRASI MAGISTER PEND AGAMA ISLAM
 


Maret   2013









B I O D A T A

NAMA
:
Dr. WIDI HARSONO, Drs.,SE.,MSi.
TEMPAT/TGL. LAHIR
:
BANYUWANGI, 18 JULI 1958
NIP
:
19580718 199309 1 001
PANGKAT   /  GOL.           
:
PEMBINA TINGKAT I (  IV/b  )
JABATAN
:
FUNGSIONAL PERENCANA MADYA 
INSTANSI
:
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH   KABUPATEN BANYUWANGI   
ALAMAT KANTOR
:
JL. A. YANI 100, B.WANGI ( 0333-428992 )
STATUS  AKADEMIS                    
:
DOSEN  TETAP 
N I D N                                             
:
07.180758.01
JABATAN AKADEMIK  
:
LEKTOR KEPALA  ( IV/c )
PERGURUAN TINGGI                   
:
FISIPOL  UMS JEMBER. (  KOPERTIS WILAYAH VII  JAWA TIMUR )
ALAMAT / NO.  TLP.
:
DSN SUMBERGROTO RT. 04, RW. 02 
DESA  REJOAGUNG  KEC. SRONO  KAB. BANYUWANGI HP. 081 333 540 145,  Email  wied_dhamar@co.id.
AGAMA
:
ISLAM
STATUS
ORGANISASI PROFESI
:
KAWIN
AP2I ( ASOSIASI  PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA ) BAPPENAS
PENDIDIKAN
:
S - 1  ( JUR. ADMINISTRASI  FISIPOL UNIV. JEMBER )
S - 1  ( JUR. MANAJEMEN FE UMS JEMBER )                                                                                                                                                                   AKTA MENGAJAR IV FKIP UMS JEMBER
S - 2  MAGISTER  ADM  PUBLIK  (MAP)  UNEJ JEMBER
AKTA MENGAJAR V FIP UNIVERSITAS JEMBER                                                                                              
AA ( APPLIED APROACH ) KOPERTIS VII JAWA TIMUR
S - 3  ADMINISTRASI  PUBLIK  FIA  UNIBRAW  MALANG







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar